Belajar dari kasus mobil listrik Pak Dahlan, dari sudut pandang penelitian

Pagi ini di sosial media sejak semalam ramai postingan tentang kasus riset mobil listrik Pak Dahlan Iskhan (DI) yang kasusnya diperiksa oleh kejaksaan. Mobil listrik Pak DI ini yang heboh saat dipamerkan pada konferensi APEC 2013 di Bali, menurut sumber CNN Indonesia dan Otomania di sponsori oleh tiga BUMN yaitu PT Pertamina, PT Perusahaan Gas Negara (PGN), dan PT BRI. Ketiga perusahaan plat merah mengucurkan dana sekitar Rp 32 miliar untuk menciptakan 16 prototipe mobil listrik kepada PT Sarimas Ahmadi Pratama (SAP). Di sisi lain, dalam laman facebooknya mas Ricky Elson, dikatakan bahwa mobil-mobil tersebut merupakan bayi produk riset yang tentu saja perlu dikembangkan lebih lanjut, sehingga pengusutan kasus riset yang  produknya dicap “tidak dapat digunakan” oleh kejaksaan ini cukup konyol.

Memang nuansa politik dalam kasus ini teramat sangat kental. Sehingga saya pribadi tidak akan mengulas masalah politik dan hukumnya, atau mengulas mana yang benar dan mana yang salah, namun kita harus belajar dari kasus ini, terutama untuk para ilmuwan dan calon ilmuwan yang berada di jalur ilmiahnya karena fenomena seperti ini sudah terlalu sering terjadi di Republik kita. Kasus-kasus sejenisnya seperti pembangkit listrik dengan bahan bakar air, sumber listrik tenaga hampa, alat terapi kanker, drone amphibi, dsb. Lebih dari itu, ekspose dari (sosial) media yang terkesan berlebihan terkadang membuat over ekspektasi dari masyarakat luas. Memang motivasi semangat kebangsaan dan menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak bangsa diperlukan, tapi komunikasi ke publik yang over klaim tentang hasil riset akan membuat edukasi yang salah untuk masyarakat.

Memang tuntutan masyarakat terhadap riset dalam negeri kita untuk hasil yang langsung “terlihat” sangat tinggi, di sisi lain banyak ilmuwan yang terjebak dengan jalan pintas fokus pada penelitian berorientasi pada produk akhir. Ditambah popularitas dan ekspose media masa dan media sosial yang awam terhadap dunia ilmiah terkadang membuat informasi menjadi misleading. Sedangkan jika ingin riset yang mendalam, penelitian dengan orientasi sains dan teknologi inti, akan lebih “tak lekang oleh waktu”. Seperti tak pernah usai dikotomi para ilmuwan tentang orientasi penelitian berbasis produk akhir dan sains itu sendiri.

Pertanggungjawaban Ilmiah

Dalam penelitian, ada yang disebut pertanggungjawaban ilmiah sebagai pertanggungjawaban kepada investor yang memberikan funding penelitian. Pertanggungjawaban ilmiah ini dalam dunia penelitian cukup “to the poin” yaitu Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Bisa berupa paten (bila orientasi pada terapan), bisa berupa publikasi ilmiah (jurnal, konferensi), atau Hak Cipta alias copyright. Dalam publikasi ilmiah, ini wajib dideklarasikan pada acknowledgement. Tanpa pendeklarasian acknowledgement penyandang dana peneliti bisa dianggap melanggar etika penelitian dengan serius. Inilah pertanggungjawaban minimal kepada pemberi dana, terlebih jika penelitian didanai APBN, output HAKI tersebut menjadi pertanggungjawaban terhadap masyarakat luas. Pendapat lain mungkin mengatakan, mana dampaknya ketika penelitian berakhir di Jurnal ilmiah dan HAKI? produk hasil riset merupakan intisari dari ratusan ribu bahkan jutaan penelitian yang diakui komunitas ilmiah dari publikasi ilmiah yang terbit. Terlebih produk engineering, sudah tidak terlihat lagi sekat-sekat teritorial wilayah negara tertentu, semua bersifat global, lintas institusi, lintas regional bahkan bisa lintas benua. Jika ingin produk yang bagus, perbanyaklah penelitian yang bagus, yang dibuktikan dengan luaran ilmiah yang bagus. Kembali contoh pada mobil listrik, ketika ingin mobil listrik yang bagus, ya perdalamlah penelitian tentang ketahanan baterei, tentang material baterei yang bagus, tentang penggerak motor yang hemat energi, dan sejenisnya. nah kembali ke kasus mobil listrik pak DI, yang belum pernah dijelaskan ke publik adalah seperti apa pertanggungjawaban penelitian tersebut? apakah memang cukup berupa prototype? ataukah ada luaran ilmiah lainnya? seperti apa perjanjian dengan penyandang dana? Penjelasan tentang poin-poin ini tentu lebih nyaman untuk publik, daripada membenturkan kepentingan tertentu dengan mencoba mengkutubkan simpati publik.

Perdebatan tentang pendanaan riset sains/terapan dan tuntutan outputnya 

Perdebatan tentang perlu tidaknya pendanaan riset sains memang terus mencuat. Pendanaan riset dipandang seperti investasi bisnis, ada modal yang diberikan ada imbal balik pada penyandang dana. Sehingga penyandang dana (dan masyarakat) tentu ingin investasi dana risetnya segera kelihatan hasil akhirnya, produk akhirnya. Bahasa simpelnya ingin segera lihat bentuk mobilnya yang jalan🙂 di sisi lain bagi para ilmuwan yang fokus pada kaidah sains capaian tersebut belum tentu dapat dicapai dalam 2-3 tahun. Mungkin sampai puluhan tahun. contoh sederhana, penemuan semiconductor transistor pertama (1947) sebagai tonggak awal dunia digital, sampai saat ini  selama 68 tahun, masih terus berkembang baik teknologi inti di dalamnya maupun implementasi produk akhirnya, bahasa dalam dunia sains, adalah “never ending results”. Lha terus? kalau skema pembiayaan saja short-term, riset sains yang gak kelihatan hasilnya ini pembiayaannya bagaimana? masih mending riset sains yang bisa diimplementasikan, bagaimana dengan ilmuwan di sains teori, matematika, atau astronomi, belum tentu tiba tiba mereka punya implementasi penelitiannya. Belum lagi riset yang didanai pemerintah terikat dengan APBN yang perencanaanya tahunan atau paling jauh 5 tahunan.

Perdebatan perlunya pembiayaan sains, bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di negara maju. Lagi-lagi orientasi luaran nyata oleh penyandang dana menjadi momok. Di sisi lain banyak ilmuwan yang terjebak untuk segera mendapatkan pendanaan penelitian dengan menawarkan output yang over klaim, atau yang terjebak dengan over klaim untuk pencitraan media (sosial) apapun motivasinya. Di poin ini lah yang cukup membahayakan bagi kredibilitas dan integritas ilmuwan. Terlebih jika ditambahkan bumbu politik praktis, tentu saja kaidah ilmiah yang diinginkan bisa menjadi absurd.

Karena itulah, maka saat ini telah diluncurkan sistem pendanaan penelitian otonom dengan Indonesian Science Fund yang patut diapresiasi untuk kemajuan penelitian jangka panjang di Indonesia.

Penutup

Dari kasus ini, sebagai bagian dari komunitas ilmiah, para ilmuwan harus belajar. Kalau dalam dunia sepakbola ada slogan “Let’s kick out politics from football”, demikian juga sebaiknya dalam ilmiah. Ilmuwan harus lepas dari kepentingan politik dan golongan tertentu. Berpijak pada integritas ilmiah, peneliti bisa saja salah namun tidak boleh bohong. Memegang teguh etika penelitian meskipun di dunia yang sunyi untuk para peneliti. Mempertajam dan memperdalam kompetensi diri demi pengabdian lebih besar terhadap ilmu pengetahuan.

Riset bukanlah proyek Bandung Bondowoso yang bisa jadi hasilnya dalam semalam. Prosesnya itu yang penting, apakah sudah sesuai kaidah ilmiah. Hasilnya bisa tidak sesuai yg direncanakan, asal melalui proses yg benar. Jika tidak menggunakan kaidah ilmiah, ya jangan disebut penelitian, tapi proyek. Bukan pertanggungjawaban ilmiah lagi yang dilihat, tapi ya seperti “proyek” pada umumnya. Penelitinya dan Investornya harus punya persepsi yg sama dalam hal ini.

About briliano
Briliant Adhi Prabowo is a researcher in Electronics Engineering. He received Bachelor Eng. from Soegijapranata Catholic University, Semarang, Indonesia in 2005. In April 2006 he joined PT. Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV) in Transmission Department, and worked on satellite and microwave communication field for broadcasting. In January 2008 he joined Research Center for Informatics, Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Bandung, Indonesia, and his research related to Embedded System based linux. Since 2012, he received his Master of Engineering in Center for Computational Microelectronics, Department of Computer Science and Information Engineering Asia University, Taiwan. His master research related to TCAD Engineering (2D and 3D) for power devices reliability, include AlGaN/GaN HEMTs device, bipolar transistor and LDMOS. Currently, he is a Ph.D. candidate at Department of Electronics Engineering, Chang Gung University, Taiwan. His recent research topic related to organic electronic devices, bioelectronics and biosensor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: