PILPRES 2014: Sisi Cerita Mengawal Demokrasi

JAKARTA – Sejak pagi, Yap Siauw Soen Gie mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) 5 Kelurahan Cangkiran, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, saat pelaksanaan coblosan pemilihan presiden (Pilpres) pada 9 Juli 2014.

Dia menyaksikan bagaimana panitia pemungutan suara (PPS) membuka kotak suara, menghitung jumlah kertas suara, serta menyiapkan berbagai keperluan pemungutan suara lainnya.

“Pokoknya pagi-pagi saya sudah datang ke TPS. Lihat kotak suaranya dibuka. Lalu ikut antri nyoblos. Ikut memantau suasana lah,” ujarnya saat bercerita kepada Bisnis, Minggu (20/7).

Usai menggunakan hak pilihnya, Pak Yap begitu biasa dia disapa, memilih pulang ke rumah sejenak. Namun, saat mendekati waktu penghitungan suara kira-kira pukul 12.00 WIB, dirinya kembali lagi ke TPS.

Satu jam kemudian, TPS resmi ditutup. Pak Yap mengikuti seluruh proses penghitungan suara.

Dia mencatat satu demi satu suara yang diperoleh pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Dia juga sempat memotret hasil suara akhir yang tertuang di formulir C1.

Tak hanya berhenti di sana, selang 1—2 hari kemudian, Pak Yap mendatangi kantor kelurahan. Data yang ada dicatatannya, lalu disandingkan dengan data di kelurahan.

“Angkanya sama di tempat saya nyoblos dengan data kelurahan. Saya juga sempat mantau di dua lokasi TPS sekitar kelurahan. Saya catat juga, dan semuanya relatif sama,” tutur pemilik usaha toko material itu.

Usai rekapitulasi data di kelurahan, Pak Yap melanjutkan pantauannya di kecamatan. Data di tingkat kecamatan sempat terlihat ada perubahan. ”Tetapi hanya terkait penjumlahan saja,” imbuhnya.

Seluruh data yang dikumpulkan juga dibandingkan dengan hasil scan yang diunggah melalui situs resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Sepak terjang yang dilakukan Pak Yap hanya satu di antara sekian banyak masyarakat yang tergerak hatinya mengawal proses demokrasi di republik ini.

Seluruh proses mengawal suara hasil pilpres itu dilakukannya secara sukarela, tanpa embel-embel materi. “Enggak, ini hanya berangkat dari idealisme saja.”

Sepintas yang dilakukannya memang simpel. Namun rupanya, langkah itu menular ke kawan-kawannya sesama etnis Tionghoa lainnya. Dan itu cukup dirasakannya ketika mereka saling bertemu.

“Ada yang melakukan hal yang sama. Entah pengaruh saya atau bukan, tetapi mereka bersikap sama,” jelasnya.

Berbeda dengan Pak Yap, pengalaman mengawal demokrasi dalam Pemilu 2014 juga terasa di luar negeri.

Seorang mahasiswa program doktoral di Chang Gung University Taiwan, Briliant Adhi Prabowo menceritakan antusiasme warga Indonesia di negara itu saat pemungutan suara, terutama pilpres.

“Waktu pileg, saya mencoblos di TPS Taoyuan 3, sedangkan waktu pilpres, saya menggunakan hak suara lewat pos,” katanya melalui surat elektronik.

Sebagai gambaran, dia menggunakan hak suara sekitar tiga jam sebelum TPS ditutup saat pileg April lalu.

“Waktu itu hanya sekitar 10 orang yang telah menggunakan hak pilih dari sekitar 400-an daftar pemilih. Artinya pada saat pileg, antusiasme pemilih bisa dibilang rendah,” imbuhnya.

Dia mengakui yang membedakan pesta politik tahun ini adalah peran media sosial yang dimanfaatkan masyarakat, capres-cawapres, caleg untuk mempromosikan kandidat.

Dia mencontohkan sewaktu pileg hingga H-2 pencoblosan dirinya belum sempat melihat atau membaca latar belakang calon anggota legislatif, sedangkan informasi di KPU sangat terbatas.

Pada akhirnya, katanya dia memilih melibatkan diri dalam diskusi di media sosial untuk memilih caleg yang paling sesuai dengan aspirasi diaspora Indonesia.

“Untuk pilpres, antusias memanfaatkan media sosial lebih terasa. Bagi diaspora Indonesia yang kebanyakan melek informasi tidak menjadi masalah ketika black campaign sangat masif diberitakan, karena memiliki akses yang cepat untuk informasi yang berimbang.”

Pada Pilpres 2009, Briliant mengaku tidak menggunakan hak politiknya alias golput. Namun pada 2014, dia menggunakan hak pilih dengan alasan ada kandidat yang menggunakan trend-setter dalam berpolitik.

Setidaknya  jika kandidat terpilih dalam menjalankan tugasnya tidak dengan amanah, dia berhak untuk menagih janji secara terbuka.

MANFAATKAN TEKNOLOGI

Satu hal yang patut diapresiasi pula, panitia pemungutan luar negeri (PPLN) Taipei melakukan proses penghitungan suara dengan ditayangkan melalui video conference secara live di situs PPLN Taipei.

Demikian juga hasil perolehan suara terpantau secara terbuka dan realtime. “Memang demikian, seharusnya teknologi dapat dimanfaatkan untuk transparansi pesta demokrasi, yang bersih dah akuntabel.”

Masyarakat yang tinggal di luar negeri, katanya siap untuk mendukung pemerintahan mendatang dan berkontribusi dalam bentuk apapun untuk kemajuan Indonesia sesuai dengan minat, bakat, dan keahlian masing-masing.

Inilah proses demokrasi dalam negeri yang euforianya benar-benar dirasakan hampir sebagian besar masyarakat Indonesia.

Sejak pelaksanaan coblosan selesai, lalu kedua kubu capres-cawapres saling klaim kemenangan, secara serta merta muncul berbagai gerakan di media sosial untuk mengawal hasil pilpres.

Mereka bergerak memantau situs KPU, mengawasi data yang diperoleh dari situs itu, lalu dibagi atau share ke berbagai jaringan sosial lainnya.

Gerakan spontan yang nyaris tanpa komando itu seolah memberi dimensi baru dalam kehidupan politik di Indonesia.

Dari kalangan eksekutif, Jongkie Sugiarto, petinggi di perusahaan otomotif menilai wawasan masyarakat Indonesia sudah semakin luas dan terbuka dari berbagai segi.

Merupakan hal wajar, jika melibatkan diri dengan masalah politik yang dianggap berpengaruh besar terhadap kondisi negeri.

“Kepedulian muncul karena berawal dari pengetahuan, dari wawasan yang lebih terbuka,”katanya.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) itu berpendapat bahwa masyarakat berpendidikan cenderung haus informasi.

“Otomatis nantinya kita akan mengarah kepada demokrasi yang lebih sempurna, harapannya begitu,”ungkapnya.

Sejak awal, dia mengaku tidak punya keinginan terlibat terlalu dalam, pada proses pemilu tahun ini.

Jongkie juga tidak mengamati apalagi mengomentari jalannya pertarungan. Alasannya, sebagai seorang profesional di bidang bisnis, dia harus menahan diri untuk tetap netral dan menjaga preferensi pribadinya.

Intinya, dia berharap presiden bersama kabinet pemerintahannya nanti mampu memajukan Indonesia, terutama mendukung industri otomotif yang sudah terbukti menjadi tulang punggung Indonesia.

Salah satu cara, sambung dia, bisa dengan mengkaji ulang peraturan yang berlaku dan menyesuaikannya dengan kondisi globalisasi saat ini.

“Dengan sumber daya manusia nasional yang mumpuni, saya yakin 1.000% bahwa Indonesia akan menjadi pemimpin di kawasan Asean,”sebutnya.

Kendati masih ada secuil riak-riak yang tidak bersedia menerima hasil pilpres yang diumumkan KPU, siapapun yang terpilih sebagai presiden adalah kehendak rakyat Indonesia.

Semuanya harus di dukung dengan kegembiraan sebagai bagian dari pesta demokrasi. Mari menyambut pemimpin baru.

Sumber : Bisnis Indonesia (25/7/2014)

Editor : Stefanus Arief Setiaji

About briliano
Briliant Adhi Prabowo is a researcher in Electronics Engineering. He received Bachelor Eng. from Soegijapranata Catholic University, Semarang, Indonesia in 2005. In April 2006 he joined PT. Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV) in Transmission Department, and worked on satellite and microwave communication field for broadcasting. In January 2008 he joined Research Center for Informatics, Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Bandung, Indonesia, and his research related to Embedded System based linux. Since 2012, he received his Master of Engineering in Center for Computational Microelectronics, Department of Computer Science and Information Engineering Asia University, Taiwan. His master research related to TCAD Engineering (2D and 3D) for power devices reliability, include AlGaN/GaN HEMTs device, bipolar transistor and LDMOS. Currently, he is a Ph.D. candidate at Department of Electronics Engineering, Chang Gung University, Taiwan. His recent research topic related to organic electronic devices, bioelectronics and biosensor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: