Melirik Jamur Sebagai Komoditas Pangan Potensial Sumber Vitamin D

Oleh : Agnes Purwidyantri

Shiitake

Vitamin D merupakan salah satu vitamin larut lemak yang dibutuhkan oleh tubuh dalam proses metabolisme kalsium. Berbagai macam penyakit seperti rachitis, osteoporosis, kanker, bahkan jantung koroner kerap kali dikaitkan dengan kekurangan vitamin D. Vitamin D3 dapat disentesa oleh tubuh dengan bantuan sinar matahari yang dengan mudah didapatkan di daerah beriklim tropis. Namun, bagi mereka yang berada di daerah beriklim dingin, dimana sinar matahari sangat sulit diperoleh, kekurangan vitamin D menjadi ancaman serius yang sering muncul. Walaupun tubuh dapat menghasilkan vitamin D3, asupan vitamin D dari makanan tidak kalah penting. Sumber makanan yang kaya akan vitamin D antara lain berbagai jenis ikan laut, susu, keju, margarine, dll. Sumber vitamin D yang umumnya berasal dari produk-produk hewani, menyebabkan kaum vegetarian memiliki kecenderungan yang lebih tinggi terhadap resiko kekurangan vitamin D.

Jamur berpotensi sebagai sumber pangan non-hewani dengan kandungan vitamin D2 yang tinggi. Kandungan vitamin D2 ini terbentuk dari konversi ergosterol (Provitamin D2) yang teriradiasi oleh sinar UV. Para peneliti membuktikan bahwa jamur yang biasa di konsumsi sebagai makanan seperti Jamur Shiitake (Lentinus. sp), Jamur Tiram (Pleurotus. sp), Jamur Kuping (Auricularia. sp) dan Jamur Kancing/Champignon (Agaricus. sp) yang menerima paparan sinar UV mengalami peningkatan kandungan vitamin D2 yang signifikan. Peningkatan yang dihasilkan oleh paparan sinar UV terhadap jamur ini jauh melebihi kebutuhan dasar vitamin D per hari bagi orang dewasa pada umumnya. Jamur yang pada awalnya hanya memiliki kandungan vitamin D2 sebesar 10-18 IU (International Units: 40 microgram/IU), mampu menghasilkan 446-1200 IU setelah teriradiasi sinar UV. Peningkatan ini mencapai kurang lebih 50% dibandingkan kebutuhan harian yang hanya 600 IU/hari.

Penelitian membuktikan bahwa vitamin D2 yang dihasilkan oleh jamur, tidak hanya terbatas pada jamur yang biasa dikonsumsi sebagai makanan saja, namun juga jamur obat. Jamur obat semacam Jamur Lingzhi (Ganoderma. sp) dan Cordyceps. sp sangat terkenal dan telah berhasil menciptakan pasar khusus karena khasiatnya sebagai anti tumor, anti kanker, anti inflamasi, sumber antioksidan, penjaga stamina, dll. Dengan meningkatkan kandungan vitamin D2 pada jamur obat, manfaat jamur ini pun tidak hanya terbatas sebagai obat, namun juga memiliki nilai lebih sebagai sumber nutrisi. Hal ini sangat mungkin diaplikasikan mengingat pada dasarnya semua jenis jamur memiliki kandungan ergosterol sebagai prekursor vitamin D2.

Inspirasi ini tidak hanya menggairahkan pasar jamur, industri mesin penghasil sinar UV pun ikut melirik kesempatan emas dalam pengolahan jamur. Karenanya, saat ini, di Amerika Serikat, produsen jamur berlomba-lomba menjual produk jamur teriradiasi. Salah satu perusahaan jamur di Amerika Serikat, Dole Mushrooms, bahkan menggunakan slogan “We’ve captured the sun!” di salah satu kemasan produk Jamur Portobello nya. Bak gayung bersambut, produk ini mendapatkan reaksi positif konsumen karena kandungan vitamin D2 nya yang jauh lebih tinggi di bandingkan jamur-jamur lain di pasaran. Tidak hanya dikonsumsi sebagai makanan, produk jamur juga dapat diproduksi dalam bentuk powder yang sangat praktis digunakan sebagai salah satu komposisi dalam fortifikasi makanan lain seperti susu, keju dan margarin.

Perkembangan pesat bisnis jamur bervitamin D tinggi diharapkan dapat menjadi angin segar bagi kemajuan budidaya jamur di Indonesia. Dengan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan jamur. sosialisasi komprehensif mengenai budidaya jamur kepada masyarakat dan dukungan pemerintah, Bukan tidak mungkin, suatu saat nanti Indonesia dapat mengalahkan Cina, Jepang dan Korea di pasar jamur internasional.

About briliano
Briliant Adhi Prabowo is a researcher in Electronics Engineering. He received Bachelor Eng. from Soegijapranata Catholic University, Semarang, Indonesia in 2005. In April 2006 he joined PT. Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV) in Transmission Department, and worked on satellite and microwave communication field for broadcasting. In January 2008 he joined Research Center for Informatics, Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Bandung, Indonesia, and his research related to Embedded System based linux. Since 2012, he received his Master of Engineering in Center for Computational Microelectronics, Department of Computer Science and Information Engineering Asia University, Taiwan. His master research related to TCAD Engineering (2D and 3D) for power devices reliability, include AlGaN/GaN HEMTs device, bipolar transistor and LDMOS. Currently, he is a Ph.D. candidate at Department of Electronics Engineering, Chang Gung University, Taiwan. His recent research topic related to organic electronic devices, bioelectronics and biosensor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: