Science vs Terapan, so what ?

Dalam era beberapa tahun terakhir banyak sekali perdebatan tentang bagaimana output sebuah penelitian seharusnya. Di bidang engineering misalkan, sebuah penelitian banyak dituntut dengan anekdot “mau bikin apa?”. Pertanyaan tersebut bisa ditelaah lebih jauh, bahwa penelitian dituntut harus menghasilkan “apa” (produk) atau “bisa apa?” (implementasi) atau “bisa dijual berapa?” (bernilai ekonomis).

Mari kita lihat lebih dalam sebuah “produk” misalkan tablet PC, yang bisa ini-itu dan bernilai ekonomis, lebih lagi dicap sebagai smart device dan populer lagi🙂. Dalam sebuah hasil PC tablet ada ribuan topik penelitian yang secara persistent beberapa tahun sebelumnya di-explore, hingga akhirnya jadi sebuah device yang kita pakai tersebut.

Saya perumpamakan sebagai berikut, seorang petani kapas dengan teknik pertaniannya, memberi pupuk supaya pohon kapasnya subur, dan dipanen di saat yang tepat. Lalu dia menjual hasil panennya ke pada pemintal. Oleh pemintal kapas itu dijadikan benang dengan teknik khusus, dari benang yang kecil sampai besar dengan berbagai ukuran. Hasil pintalan dijual lagi kepada penenun, dan oleh penenun dengan teknik khusus dijadikannya kain, macam-macam kualitasnya, jenisnya. Kemudian dijual lagi kepada konveksi untuk dibuat baju yang sesuai dengan kainnya. Ilustrasi ini ketika kita melihat “pakaian” sebagai “produk”.

Demikian juga dengan tablet PC, pernahkah terbayangkan bagaimana orang-orang material engineering mengekstrak material-materialnya untuk menjadi silicon murni misal, kemudian engineer yang lain memproduksi material tersebut dengan kompleksitas teknis yang rumit menjadi sebuah device transistor. Jutaan transistor dirangkai kembali dalam satu rangkaian terintegrasi (misal microprosessor) dan dipack dalam sebuah IC, kemudian bersama modul-modul lainnya seperti memori akhirnya bisa dirakit menjadi sebuah PC tablet.

Lalu dimana peran keilmiahan science pada sebuah produk?

Pergulatan panjang science dari setiap tahap proses yang ada, akhirnya menjadi sebagian keciiiiilllll.. dari teknik yang dipakai saat ini.

Ilustrasi menarik lainnya saya gambarkan sebagai berikut. Ketika Shockley, Bardeen, and Brattain pada tahun 1949 menemukan transistor, apakah mereka tahu bahwa konsep transistornya itu akan menjadikan sebuah awal era digital, seperti PC tablet sekarang ini? Atau lebih jauh sebelumnya, ketika Bohr tahun 1913 mengungkapkan taori atomnya apakah orang akan menanyakan “Terus gue harus bilang wow?” “Bisa apa teori atom lu?” “Emang dengan teori atom lu, kita bisa terbang?“. Tidak!!. Seperti itulah kira-kira science. Inovasi atau teori baru yang lahir berdasarkan kajian ilmiah, artinya hasilnya berdasarkan kerangka berpikir yang logis dan kebenarannya bersifat universal (bisa diulang kapanpun, dimanapun oleh siapapun).

Bagaimana di Indonesia?

Yang menjadi lebih memprihatinkan, di Indonesia geliat keilmiahan semakin kurang diminati. Misalkan adanya anekdot “Kalau bisa beli, kenapa harus bikin?“. Dan tak jarang pemegang kebijakan, maupun kalangan intelektual sendiri, ikut-ikutan latah dengan hal ini. Arah riset di negeri kita, lebih banyak fokus ke terapan, karena memang dampak ekonomisnya cepat, belum lagi dampak popularitasnya. Misalnya riset bagaimana sistem solar cell diimplementasikan di perkantoran (terapan), akan lebih populer dan bernilai ekonomis, daripada riset bagaimana membuat solar cell dengan material baru yang efisiensinya tinggi (science). Lemahnya akar-akar ilmiah dan popularitas instant dari ilmu terapan tersebut membuat banyak “riset jalan pintas”, seperti yang pernah heboh tantang banyugeni, pembangkit listrik tenaga hampa, dan sejenisnya. Jangankan untuk riset teknologi, kisah PT MRT Jakarta, yang tidak dapat menjawab pertanyaan sang gubernur, berapa Return on Investment (ROI) dan berapa penumpang di jam sibuk dan jam sepi, juga mengindikasikan sebuah proyek sudah diajukan dan disetujui namun mereka tidak melakukan riset terlebih dahulu tentang tanggapan calon konsumen tentang layanan yang mereka tawarkan.😦

Faktor lain yang menghambat berkembangnya akar science adalah dikotomi background pendidikan untuk lapangan kerja. Masih banyak persepsi yang berpendapat orang-orang science akan lebih sulit mencari lapangan kerja. Tersedianya lapangan kerja yang dapat menampung ide-ide science memang terbatas, pendapat yang beredar larinya mengajar atau ke lembaga penelitian.  Dan diakui atau tidak masalah ini pula yang membuat banyak pakar lulusan LN yang akhirnya banting setir ketika harus kembali ke pangkuan ibu pertiwi, dan tentunya krisis SDM dalam hal science akan terus berlajut jika hal ini terus bergulir. Ibarat dalam strategi bermain bola, permainan dengan “menjemput bola” tentu lebih atraktif daripada strategi “menunggu bola”.🙂

Tanpa science yang mendalam riset terapan yang handal tak akan dihasilkan. Sebut saja, Samsung, perusahaan yang secara sporadis menguasai teknologi dari telekomunikasi sampai kulkas, dari TV sampai AC. Investasi riset mereka hadir di semua lini, dari riset material, process integration, sampai riset tentang global marketing, dan perilaku konsumen di semua negara tujuan marketing. Sehingga produk mereka pun berhasil melakukan penetrasi ke China dan Jepang, dimana secara kultural di kedua negara ini sering dikaitkan sebagai “anti Korea”.

Science research, mencari jalan setapak demi setapak.

Dalam hal ini, dikotomi riset science dan terapan seharusnya tidak perlu diperdebatkan dan diperuncing. Siapa yang lebih berperan, dan siapa yang lebih menghasilkan tidak perlu diperbesar.

Semua lini riset harus bersinergi untuk kemajuan dan kehandalan teknologi. Kalau diibaratkan sebuah pencarian jalan ke daerah tak berpenghuni, riset science adalah sang pembuka jalan. Mereka berprogress setapak demi setapak membuka jalur, ada yang nyasar, ada yang kebablasan, ada yang harus terhenti karena mentok di depan sudah jurang, dsb. nah riset terapan adalah mereka yang memperlebar jalan setapak yang telah dibuka jalurnya, kemudian industri yang mengaspal jalan tersebut, dan masyarakat akhirnya bisa menikmati jalan yang mulus.

Bahkan tak jarang hasil riset science baru dirasakan terapannya puluhan tahun setelah hasilnya dipaparkan.

“Somewhere, something incredible is waiting to be known.”

Dr. Carl Sagan quotes (American Astronomer, Writer and Scientist, 1934-1996)

Taoyuan, 16 November 2012

Briliant A. Prabowo

About briliano
Briliant Adhi Prabowo is a researcher in Electronics Engineering. He received Bachelor Eng. from Soegijapranata Catholic University, Semarang, Indonesia in 2005. In April 2006 he joined PT. Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV) in Transmission Department, and worked on satellite and microwave communication field for broadcasting. In January 2008 he joined Research Center for Informatics, Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Bandung, Indonesia, and his research related to Embedded System based linux. Since 2012, he received his Master of Engineering in Center for Computational Microelectronics, Department of Computer Science and Information Engineering Asia University, Taiwan. His master research related to TCAD Engineering (2D and 3D) for power devices reliability, include AlGaN/GaN HEMTs device, bipolar transistor and LDMOS. Currently, he is a Ph.D. candidate at Department of Electronics Engineering, Chang Gung University, Taiwan. His recent research topic related to organic electronic devices, bioelectronics and biosensor.

3 Responses to Science vs Terapan, so what ?

  1. Anonymous says:

    apik kang, apalagi tentang analogi kapas dan buat jalan setapak.
    di indo memang kebanyakan riset berbasis aplikasi, lah itu jeh yg ada duitnya
    tetap semangat

  2. Pingback: Belajar dari kasus mobil listrik Pak Dahlan, dari sudut pandang penelitian dan sains | Briliant A. Prabowo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: