warna-warni televisi

Televisi adalah sebuah alat penangkap siaran bergambar. Kata televisi berasal dari kata tele dan vision; yang mempunyai arti masing-masing jauh (tele) dan tampak (vision). Jadi televisi berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Penemuan televisi mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia ‘televisi’ secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi.

Pada dasarnya menonton adalah hiburan dasar yang diminati oleh manusia bukan hanya di indonesia tapi di seluruh dunia. di eropa dikenal ada orchestra, atau drama musikal kabaret. di indonesia ada wayang kulit, ludruk, ketoprak ngelenong, tari-tarian, semuanya dinikmati hanya dengan menonton. bahkan hiburan yang lagi digandrungi oleh orang seluruh dunia adalah olahraga. olahraga yang nilai awalnya untuk kesehatanpun sekarang menjadi suatu hiburan hanya dengan menonton. seperti halnya final piala dunia 2006 yang diklaim sebagai tontonan memukau sampai lebih dari 30 milyar pasang mata di dunia pada waktu yang bersamaan. semuanya bisa dinikmati, menimbulkan emosi hanya dengan menonton.

maka tak heran televisi adalah sebuah hiburan yang paling praktis bagi masyarakat. tak terbatas ruang dan waktu bisa dihadirkan secara audio visual di dalam sebuah kotak.

setelah era 90-an televisi menjadi sebuah media yang paling mengigit peradaban, dan mempengaruhi masyarakat dengan dahsyatnya. apalagi di Indonesia setelah pihak swasta ikut meramaikan kancah broadcast pertelevisian nasional, gak tanggung-tanggung sampai saat ini sudah menjamur 11 stasiun swasta nasional free air, belum termasuk tv lokal, atau TV berlangganan.

TV juga sudah bukan merupakan barang mewah bagi kalangan masyarakat manapun, bahkan di pemukiman kumuh di bantaran sungaipun, hampir setiap rumah sudah ada televisi berwarna. karena itulah televisi menjadi kendaraan yang sangat potensial secara ekonomi, sosial, bahkan politik.

secara ekonomi, tentu berhubungan dengan iklan. berapa jumlah iklan produk yang begitu mudahnya dikenal melalui media televisi. dari iklan rokok, iklan sabun, minuman ringan, permen, cokelat, dan apapun produk yang diiklankan lewat televisi, pasti lebih banyak menggigit pasar daripada produk yang tidak pernah diiklankan melalui televisi. televisi terestrial yang fee air tentu lebih banyak menjadi tujuan peng-iklan, karena bagaimanapun juga yang bersifat gratisan tentu lebih banyak yang menikmati daripada yang berlangganan. apalagi sebagian besar masyarakat indonesia masih dibawah garis kemapanan, TV terestrial free-air menjadi konsumsi sehari-hari, dan disitulah iklan2 menjaring image dan pasar.

secara sosial, televisi juga sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan masyarakat. dahulu yang dibanggakan oleh perempuan indonesia adalah image dengan kulit sawo matang dan kuning langsat. sampai saat ini, image yang beredar di masyarakat telah bergeser, bahwa perempuan akan lebih lengkap kecantikannya dengan memiliki kulit putih. itulah sasaran empuk para pengiklan produk kosmetik dan pemutih yang berhasil merubah image masyarakat. berapa banyak perempuan saat ini yang berlomba-lomba memiliki kulit putih dan menjadi korban iklan kosmetik. padahal para wisatawan asing kulit putih berdatangan ke bali saja, pengen memiliki kulit gelap dengan berjemur di pantai.
gejala sosial lain yang terjadi di televisi contohnya iklan deodorant. dahulu jaman saya masih SD-SMP, tak banyak anak2 seusia sekolah terlalu ambil pusing dengan kepercayaan diri dengan deodorant. iklan anak SMP yang meledek temannya dengan “BURKET” ketika mengalami gangguan bau badan ternyata berhasil menyedot perhatian yang luar biasa bagi remaja. produk deodorant ataupun bahkan parfum sudah bukan hal yang langka digunakan oleh anak2 SD atau SMP, karena tak ingin ketinggalan trend, image, atau bahkan kepercayaan dirinya dibanding kawan-kawannya.
Trend juga merupakan gejala sosial yang cukup cepat yang diakibatkan oleh televisi. gaya rambut artis, cara berpakaian public figur, infotainment, musik, bahasa gaul yang digunakan di acara2 tertentu, membawa aroma trend yang sangat kental terutama dikalangan anak muda dan remaja.

Secara politik, sedikit banyak televisi sebagai media tentu juga berpengaruh. di tahun 1998 ketika suhu politik Indonesia memanas, dan mahasiswa di jakarta bergolak, oleh televisi sebagai media dengan cepat ke seluruh Indonesia informasi dan “semangat” yang ditumpangkan dalam pemberitaannya membuat semua mahasiswa ikut bergolak menuntut reformasi.
selain itu itu media televisi juga bisa menjadi sebuah wacana koreksi bagi penguasa, misalkan dengan mengkritisi monopoli usaha seperti yang sedang gempar saat ini, mengkritisi pemilu dan prosesnya, mengkritisi aparat seperti TNI dan Polri dan lain sebagainya.

begitu besarnya pengaruh televisi bagai masyarakat, hingga bisnis media ini begitu menantang para pengusaha bahkan juga para politisi untuk berkecimpung di dalamnya.
Di prediksikan dari 11 stasiun televisi swasta free air di Indonesia, akan mengkerucut menjadi 3 kelompok. lepas dari sebuah monopoli usaha atau bukan, para pemilik stasiun tersebut sedang membangun sebuah “kerajaan media” seperti murdoch.

seperti halnya sebuah kerajaan dengan rajanya, angkatan perang dan strategi, bisa saja terjadi perang media. perang media akan tampak dengan tiru-meniru acara yang sejenis atau mirip. seperti acara audisi2an bertanding dengan TV lain yang acaranya sejenis dan diputar di jam yang sama. mereka perang merebutkan pemirsa, karena jumlah pemirsa akan berdampak langsung pada pemasukan iklan. perang media yang lain adalah perang kepentingan, seperti kasus beberapa petinggi televisi yang kerap di gossipkan dengan artis di infotainment televisi lain, atau petinggi televisi yang dikaitkan dengan konspirasi pemerintah seperti yang pernah menimpa pemilik televisi swasta.

Televisi memang media broadcast dengan pedang bermata dua, di satu sisi akan menjadi sarrat kepentingan bisnis, ekonomis, dan politis para pemiliknya, dan di sisi lain harus membawa misi membawa aroma kecerdasan untuk masyarakat, bangsa dan negara.

 

About briliano
Briliant Adhi Prabowo is a researcher in Electronics Engineering. He received Bachelor Eng. from Soegijapranata Catholic University, Semarang, Indonesia in 2005. In April 2006 he joined PT. Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV) in Transmission Department, and worked on satellite and microwave communication field for broadcasting. In January 2008 he joined Research Center for Informatics, Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Bandung, Indonesia, and his research related to Embedded System based linux. Since 2012, he received his Master of Engineering in Center for Computational Microelectronics, Department of Computer Science and Information Engineering Asia University, Taiwan. His master research related to TCAD Engineering (2D and 3D) for power devices reliability, include AlGaN/GaN HEMTs device, bipolar transistor and LDMOS. Currently, he is a Ph.D. candidate at Department of Electronics Engineering, Chang Gung University, Taiwan. His recent research topic related to organic electronic devices, bioelectronics and biosensor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: