Portable SPR Biosensor: Tantangan riset multidisiplin

Pada tanggal 21 November 2015, saya diminta untuk berpartisipasi dalam kuliah online Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) untuk sharing baik riset, tips publikasi ilmiah, dan pengembangan karir penelitian.

Poster I-4

Poster I-4

Bagi yang belum sempat atau terlewatkan, selengkapnya, kuliah online tersebut dapat dilihat pada tautan YouTube berikut ini:

Belajar dari kasus mobil listrik Pak Dahlan, dari sudut pandang penelitian

Pagi ini di sosial media sejak semalam ramai postingan tentang kasus riset mobil listrik Pak Dahlan Iskhan (DI) yang kasusnya diperiksa oleh kejaksaan. Mobil listrik Pak DI ini yang heboh saat dipamerkan pada konferensi APEC 2013 di Bali, menurut sumber CNN Indonesia dan Otomania di sponsori oleh tiga BUMN yaitu PT Pertamina, PT Perusahaan Gas Negara (PGN), dan PT BRI. Ketiga perusahaan plat merah mengucurkan dana sekitar Rp 32 miliar untuk menciptakan 16 prototipe mobil listrik kepada PT Sarimas Ahmadi Pratama (SAP). Di sisi lain, dalam laman facebooknya mas Ricky Elson, dikatakan bahwa mobil-mobil tersebut merupakan bayi produk riset yang tentu saja perlu dikembangkan lebih lanjut, sehingga pengusutan kasus riset yang  produknya dicap “tidak dapat digunakan” oleh kejaksaan ini cukup konyol.

Read more of this post

Teknologi display layar lebar untuk truk dan kendaraan besar

Sebentar lagi musim pulang kampung alias mudik segera di depan mata. Bagi kaum perantauan di Jakarta dan Jawa barat, untuk pulang ke Semarang lewat jalur pantura merupakan keniscayaan. Selain jalur yang relatif ramai, banyak pom bensin dan restoran, jarak dan waktu tempuh yang relatif lebih pendek (asal gak macet total), juga menjadi alasan yang sukup masuk akal. Satu hal yang paling menyebalkan di Jalur pantura adalah ramainya pula untuk jalur truk, tronton dan bus, yang terkadang menghalangi pandangan “kendaraan kecil” dan terkadang ketidak hati-hatian untuk mendahului bisa berakibat fatal. Contoh wilayah paling menyebalkan adalah di Alas Roban di Batang dan Cadas Pangeran (antara Sumedang-Cirebon) kesabaran ekstra diperlukan untuk mengikuti truk/bus/tronton yang cukup lambat di tanjakan atau tikungan, sehingga sulit untuk mendahului.

Baru-baru ini, Samsung, merilis aplikasi teknologi tepat guna dari layar lebar mereka, untuk diimplementasikan di belakang truk dengan kamera kecil di bagian depan kendaraan. Sehingga, pengendara di belakang truk akan dapat memonitor kondisi jalur di depan truk tersebut. Layar lebar real time ini akan membantu kendaraan di belakangnya untuk mengambil keputusan apakah aman atau tidak untuk mendahului. Ide yang sangat sederhana namun cemerlang ini perlu diparesiasi dan didorong untuk keamanan transportasi di masa mendatang. seperti kita tahu, Samsung, LG, maupun Sony sedang berlomba-lomba mengembangkan teknologi display layar lebar, tipis, ringan, dan low power, untuk TV/monitor generasi baru. Bahkan diperkirakan teknologi OLED TV saat ini masih seharga Toyota Fortuner baru😀 Read more of this post

SUASANA IDULFITRI: Cerita WNI di Taiwan Merayakan Lebaran

Bisnis.com, JAKARTA – Lebaran, hari raya paling spesial bagi sebagian masyarakat Indonesia, mungkin akan terasa berbeda di negeri rantau, seperti di Taiwan.

Taiwan merupakan salah satu negara tujuan buruh migran Indonesia (BMI) terbesar, selain Malaysia, Hong Kong dan Timur Tengah, sehingga jumlah penduduk asing di Taiwan diperkirakan didominasi oleh WNI.

Briliant Adhi Prabowo, seorang mahasiswa doktoral Chang Gung University menceritakan bahwa diperkirakan sekitar 180.000 jiwa, penduduk asing di Taiwan berasal dari Indonesia, atau sekitar 37% dari jumlah pendatang asing yang tentunya di luar penduduk Tiongkok, Hong Kong, dan Makau. Read more of this post

PILPRES 2014: Sisi Cerita Mengawal Demokrasi

JAKARTA – Sejak pagi, Yap Siauw Soen Gie mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) 5 Kelurahan Cangkiran, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, saat pelaksanaan coblosan pemilihan presiden (Pilpres) pada 9 Juli 2014.

Dia menyaksikan bagaimana panitia pemungutan suara (PPS) membuka kotak suara, menghitung jumlah kertas suara, serta menyiapkan berbagai keperluan pemungutan suara lainnya.

“Pokoknya pagi-pagi saya sudah datang ke TPS. Lihat kotak suaranya dibuka. Lalu ikut antri nyoblos. Ikut memantau suasana lah,” ujarnya saat bercerita kepada Bisnis, Minggu (20/7).

Usai menggunakan hak pilihnya, Pak Yap begitu biasa dia disapa, memilih pulang ke rumah sejenak. Namun, saat mendekati waktu penghitungan suara kira-kira pukul 12.00 WIB, dirinya kembali lagi ke TPS.

Satu jam kemudian, TPS resmi ditutup. Pak Yap mengikuti seluruh proses penghitungan suara.

Dia mencatat satu demi satu suara yang diperoleh pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Dia juga sempat memotret hasil suara akhir yang tertuang di formulir C1.

Tak hanya berhenti di sana, selang 1—2 hari kemudian, Pak Yap mendatangi kantor kelurahan. Data yang ada dicatatannya, lalu disandingkan dengan data di kelurahan.

“Angkanya sama di tempat saya nyoblos dengan data kelurahan. Saya juga sempat mantau di dua lokasi TPS sekitar kelurahan. Saya catat juga, dan semuanya relatif sama,” tutur pemilik usaha toko material itu.

Usai rekapitulasi data di kelurahan, Pak Yap melanjutkan pantauannya di kecamatan. Data di tingkat kecamatan sempat terlihat ada perubahan. ”Tetapi hanya terkait penjumlahan saja,” imbuhnya.

Seluruh data yang dikumpulkan juga dibandingkan dengan hasil scan yang diunggah melalui situs resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Sepak terjang yang dilakukan Pak Yap hanya satu di antara sekian banyak masyarakat yang tergerak hatinya mengawal proses demokrasi di republik ini.

Seluruh proses mengawal suara hasil pilpres itu dilakukannya secara sukarela, tanpa embel-embel materi. “Enggak, ini hanya berangkat dari idealisme saja.”

Sepintas yang dilakukannya memang simpel. Namun rupanya, langkah itu menular ke kawan-kawannya sesama etnis Tionghoa lainnya. Dan itu cukup dirasakannya ketika mereka saling bertemu.

“Ada yang melakukan hal yang sama. Entah pengaruh saya atau bukan, tetapi mereka bersikap sama,” jelasnya.

Berbeda dengan Pak Yap, pengalaman mengawal demokrasi dalam Pemilu 2014 juga terasa di luar negeri.

Seorang mahasiswa program doktoral di Chang Gung University Taiwan, Briliant Adhi Prabowo menceritakan antusiasme warga Indonesia di negara itu saat pemungutan suara, terutama pilpres.

“Waktu pileg, saya mencoblos di TPS Taoyuan 3, sedangkan waktu pilpres, saya menggunakan hak suara lewat pos,” katanya melalui surat elektronik.

Sebagai gambaran, dia menggunakan hak suara sekitar tiga jam sebelum TPS ditutup saat pileg April lalu.

“Waktu itu hanya sekitar 10 orang yang telah menggunakan hak pilih dari sekitar 400-an daftar pemilih. Artinya pada saat pileg, antusiasme pemilih bisa dibilang rendah,” imbuhnya.

Dia mengakui yang membedakan pesta politik tahun ini adalah peran media sosial yang dimanfaatkan masyarakat, capres-cawapres, caleg untuk mempromosikan kandidat.

Dia mencontohkan sewaktu pileg hingga H-2 pencoblosan dirinya belum sempat melihat atau membaca latar belakang calon anggota legislatif, sedangkan informasi di KPU sangat terbatas.

Pada akhirnya, katanya dia memilih melibatkan diri dalam diskusi di media sosial untuk memilih caleg yang paling sesuai dengan aspirasi diaspora Indonesia.

“Untuk pilpres, antusias memanfaatkan media sosial lebih terasa. Bagi diaspora Indonesia yang kebanyakan melek informasi tidak menjadi masalah ketika black campaign sangat masif diberitakan, karena memiliki akses yang cepat untuk informasi yang berimbang.”

Pada Pilpres 2009, Briliant mengaku tidak menggunakan hak politiknya alias golput. Namun pada 2014, dia menggunakan hak pilih dengan alasan ada kandidat yang menggunakan trend-setter dalam berpolitik.

Setidaknya  jika kandidat terpilih dalam menjalankan tugasnya tidak dengan amanah, dia berhak untuk menagih janji secara terbuka.

MANFAATKAN TEKNOLOGI

Satu hal yang patut diapresiasi pula, panitia pemungutan luar negeri (PPLN) Taipei melakukan proses penghitungan suara dengan ditayangkan melalui video conference secara live di situs PPLN Taipei.

Demikian juga hasil perolehan suara terpantau secara terbuka dan realtime. “Memang demikian, seharusnya teknologi dapat dimanfaatkan untuk transparansi pesta demokrasi, yang bersih dah akuntabel.”

Masyarakat yang tinggal di luar negeri, katanya siap untuk mendukung pemerintahan mendatang dan berkontribusi dalam bentuk apapun untuk kemajuan Indonesia sesuai dengan minat, bakat, dan keahlian masing-masing.

Inilah proses demokrasi dalam negeri yang euforianya benar-benar dirasakan hampir sebagian besar masyarakat Indonesia.

Sejak pelaksanaan coblosan selesai, lalu kedua kubu capres-cawapres saling klaim kemenangan, secara serta merta muncul berbagai gerakan di media sosial untuk mengawal hasil pilpres.

Mereka bergerak memantau situs KPU, mengawasi data yang diperoleh dari situs itu, lalu dibagi atau share ke berbagai jaringan sosial lainnya.

Gerakan spontan yang nyaris tanpa komando itu seolah memberi dimensi baru dalam kehidupan politik di Indonesia.

Dari kalangan eksekutif, Jongkie Sugiarto, petinggi di perusahaan otomotif menilai wawasan masyarakat Indonesia sudah semakin luas dan terbuka dari berbagai segi.

Merupakan hal wajar, jika melibatkan diri dengan masalah politik yang dianggap berpengaruh besar terhadap kondisi negeri.

“Kepedulian muncul karena berawal dari pengetahuan, dari wawasan yang lebih terbuka,”katanya.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) itu berpendapat bahwa masyarakat berpendidikan cenderung haus informasi.

“Otomatis nantinya kita akan mengarah kepada demokrasi yang lebih sempurna, harapannya begitu,”ungkapnya.

Sejak awal, dia mengaku tidak punya keinginan terlibat terlalu dalam, pada proses pemilu tahun ini.

Jongkie juga tidak mengamati apalagi mengomentari jalannya pertarungan. Alasannya, sebagai seorang profesional di bidang bisnis, dia harus menahan diri untuk tetap netral dan menjaga preferensi pribadinya.

Intinya, dia berharap presiden bersama kabinet pemerintahannya nanti mampu memajukan Indonesia, terutama mendukung industri otomotif yang sudah terbukti menjadi tulang punggung Indonesia.

Salah satu cara, sambung dia, bisa dengan mengkaji ulang peraturan yang berlaku dan menyesuaikannya dengan kondisi globalisasi saat ini.

“Dengan sumber daya manusia nasional yang mumpuni, saya yakin 1.000% bahwa Indonesia akan menjadi pemimpin di kawasan Asean,”sebutnya.

Kendati masih ada secuil riak-riak yang tidak bersedia menerima hasil pilpres yang diumumkan KPU, siapapun yang terpilih sebagai presiden adalah kehendak rakyat Indonesia.

Semuanya harus di dukung dengan kegembiraan sebagai bagian dari pesta demokrasi. Mari menyambut pemimpin baru.

Sumber : Bisnis Indonesia (25/7/2014)

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Bilbao di Spanyol: Museum Keren, Gedung Antik & Kuliner Top

Briliant A Prabowo – d’Traveler – Senin, 07/07/2014 11:22:00 WIB

detikTravel Community –

Bilbao, ibukota Basque di Spanyol menawarkan beragam wisata dari religi, arsitektur kuno dan kuliner nan lezat. Bilbao merupakan salah satu wilayah eksotis yang dimiliki Spanyol bagian utara.

Apa yang terpikir ketika anda ingin mengunjungi Spanyol? Pastinya yang pertama terlintas adalah Barcelona dan Madrid. Beragam wisata budaya, arsitektur, maupun olahraga memang menjadi daya tarik tersendiri bagi kedua kota tersebut. Namun Spanyol tidak hanya Barcelona dan Madrid saja, kali ini kita coba menjelajahi Bilbao dan wilayah Basque, yang terletak di utara Spanyol.

Bilbao menawarkan situasi wisata yang cukup berbeda. Wisata arsitektur menjadi daya tarik utama, dengan kombinasi antara arsitektur klasik dan kontemporer. Selain itu makanan tradisional Basque yang cukup unik tentu menggugah selera wisatawan yang berkunjung. Tak lupa wisata religi yang bisa menjadi alternatif untuk berkunjung ke wilayah ini.

Bilbao terkenal memiliki iklim yang nyaman, cukup sejuk saat musim dingin dan tidak terlalu panas pada saat musim panas. Kota ini bisa diakses dengan mudah dari Madrid dengan bus yang cukup nyaman dari Stasiun Avenida de America sepanjang hari selama 24 jam, dengan waktu tempuh sekitar 3,5 jam. Sedangkan penerbangan international ke Bilbao, bisa ditempuh dari dan ke berbagai kota Eropa seperti Frankfurt, Munich, Paris, Amsterdam, Brussels, atau Dublin.

Destinasi wisata wajib ke Bilbao adalah Guggenheim Bilbao Museo, yaitu sebuah museum dengan arsitektur kontemporer karya Frank Gehry. Lokasinya di tepi sungai Nervion, museum ini sekaligus menjadi ikon utama kota Bilbao saat ini.

1

Read more of this post

Basilika Santo Ignatius de Loyola, sebuah perjalanan spiritual pribadi

‘Act as if everything depended on you; trust as if everything depended on God.’ – Ignatius de Loyola

Ad Maiorem De Gloriam,

Sebagai seorang yang pernah ditempa oleh pendidikan Jesuit, tentunya Ignatius de Loyola, pendiri ordo Jesuit, sudah tidak asing lagi di benak hati. Bahkan nama Loyola (Loiola; dalam bahasa Spanyol/Basque) telah diabadikan dalam berbagai nama institusi pendidikan di seluruh dunia, termasuk SMA Kolese Loyola di Semarang, yang menjadi almamater penulis sewaktu SMA. Kisah hidup, pertobatan, panggilan, perjuangan, dan sekaligus kepasarahan hidup yang dia dedikasikan untuk kemuliaan nama Allah semata (Ad Maiorem Dei Gloriam/AMDG) menjadi api pembakar anak-anak muda di berbagai sekolah Jesuit, untuk menjadi pejuang pembaharu dunia yang memiliki kompetensi yang unggul, memiliki hati nurani yang benar, dan berkepedulian sosial.

Lalu dimanakah lokasi sebenarnya Loyola, asal St. Ignatius itu?

Read more of this post