Perjalanan Waktu Menuju kasihNya
Bandung, ketika malam ingin menjemput pagi
Nafas masih berhembus, dan nadi masih berdetak, mengikuti iringan detik jam yang terus mencari makna dalam setiap denyutnya.
terus berputar menunggu genap 852,076,800 kali memenuhi takdirnya.
tak pernah berhenti terus bergulir diayunkan oleh “Sang Pemutar Roda Waktu” dalam kesunyian telinga hati untuk mendengarkan suaraNya.
tik tok tik tok.. terus berdetak dan berdetak mendekati 14,201,208 menit menyambut titik awal mulanya. cukup jauh namun masih terlalu dekat detik itu terus melangkah.
sudah cukup lama namun masih terlalu cepat untuk beristirahat dan menepi.
terus berdetak dan berlari.
musim boleh berganti, dan hari boleh berlalu.
namun perjalanan itu tak boleh berhenti.
dan biarkan hari ini belajar dari masa lalu dalam kenangan, sebagaimana hari ini merindukan sejuta harapan di masa depan.
meski badan tiada kekal, namun perjalanan waktu itu terus abadi sebagaimana cintaNya, yang menjadi penuntun pelita selama raga masih memeluk jiwa, kekasihnya.
telah 9,862 kali siang dan malam saling mencari, tak pernah bertemu dan terus merindu,
namun tak pernah patah arang untuk melanjutkan pencarian itu.
sebagaimana getir dan manis hidup yang saling mengisi, dan mencoba merangkainya menjadi sebuah alur cerita soneta hidup yang penuh makna.
badai dan sinar kehidupan telah dan akan terus menguji,
sebagai seleksi hidup dalam bertahan melewati evolusi,
yang terkadang harus diselingi revolusi sikap dan tanggap.
dan akan terus demikian meski telah genap 27 kali bumi mengelilingi matahari.
tak perlu air mata ikut tergerai ketika perjuangan sudah penat tuk dipikul.
karena semakin dalam hidup ini menggali kepedihan, semakin banyak pula kebahagiaan yang dapat tertampung.
seperti lautan bintang yang lebih cemerlang bila dipandang ditengah kegelapan.
Dan tepat di saat ini, bersama Sang Pemilik Hidup,
aku turun dari puncak ketinggian hati,
berhenti sejenak untuk menengadah dan bercengkerama,
mencoba mengartikan setiap suaraNya yang menyapa.
Kami telusur kembali relief-relief hidup yang telah bersama Kami pahat.
Sejenak napak tilas untuk tidak memelas ketika cerita bertudung duka,
serta mengulas untuk tak sombong berpuas saat cerita bertaburkan sukacita.
banyak sekali kutemukan pahatan yang tak sempurna,
karena ketololan saat kututup telinga hanya untuk hingar bingar dunia,
hingga tak terdengar lagi suara arahan Sang Sutradara.
Duh Gusti, nyuwun samudraning kawelasan,
kalau selama ibadah hidupku hanya karena mengharap indahnya surga dan takut akan neraka,
bukan karena kerinduan akan “manunggaling kawulo Gusti.”
Duh Pangeran, nyuwun segaraning pangaksomo,
Jika logika bebalku masih saja mempertanyakan eksistensiMu,
saat rengekanku tidak terkabulkan dihadapan tahtaMu.
Duh Roh Suci, nyuwun agunging pangapunten
Jika iri masing sering hinggap dan tertawa terbahak disudut hati.Segunung sesal dan ampun aku panjatkan,
namun saat aku beranikan diri menatap wajahMu, hanya senyum dan tatapan penuh kasih tanpa penghakiman.
Kasih dan kuasaMu begitu nyata,
dan sungguh aku serahkan dan percaya padaMu,
karena memang jiwa, raga, dan hidupku milikMu.Kaupun mempertemukan takdirku, ciptaanMu dari tulang rusuk kiriku,
perpanjangan tanganMu sebagai teman dalam perjalanan ini,
sampai keabadian waktu mengalahkan batas fana raga kami.

22 Februari 2010
berkemas dan bersiap kembali melanjutkan perjalanan menuju kasihNya,
sebuah kehidupan yang terlahir kembali

February 22, 2010 at 8:55 am
teman, happy b-day yo!
have fun!
enjoy everything
——————————
just blow the candle, and make your dream come true.
February 22, 2010 at 9:22 am
terima kasih kawan,
GBU