Inspirasi Seorang Kakek Anti Globalisasi

Foto tersebut saya jepret dengan kamera Handphone, 13 Juni 2008 lalu, di lampu merah di persimpangan jalan Ir H Juanda (dago)-Surapati Suci, Bandung.
Foto tersebut merupakan gambaran sebuah kritik sosial seorang kakek-kakek terhadap globalisasi yang membuat “manusia sekarang” semakin gila.
Dia mengislustrasikan kegilaan terhadap globalisasi (yang berlebihan) sama saja dengan paham Komunis, DI/TII, PRRI/PERMESTA, GAM, dan teroris, yang akan merusak tatanan kehidupan masyarakat.
Dia “lawan “ globalisasi yang terjerumus, dengan sebuah kesederhanaan, dengan sepeda kumbang keliling bandung.
Yang membuatku tertarik, justru orang seperti dia yang malah peduli dengan keadaan sosial masyarakat indonesia yang sedang “sakit”.
Ketika semua orang berteriak AKU yang benar dan lainnya salah. Ketika semua orang berada di negeri yang penuh amarah, ada seorang bapak tua yang mengibarkan bendera putih di atas sepeda antiknya. Dia lawan dengan kerendahan hati dan kesederhanaan, bukan dengan saling menggugat dan unjuk kekuatan, atau dengan kekerasan. Tapi dengan perdamaian (digambarkan dengan bendera putih)
Aku teringat, ketika menjelang hari kemerdekaan indonesia 3 tahun lalu. Seorang mantan pejuang mengendarai sepeda kumbang dengan menibarkan bendera merah putih dari lumajang jawa timur ke jakarta Pulang-Pergi (PP), kebetulan dia melewati semarang, dan di belakang sepedanya terdapat tulisan tangan di sebuah kardus “Demi 60 Tahun Indonesia Merdeka, saya berkeliling sepeda Lumajang-Jakarta PP, untuk menikmati hasil kemerdekaan yang dulu saya perjuangkan”. Aku bergetar membacanya.
Aku bayangkan betapa kakek itu akan bersyukur membusungkan dada dengan bangga, kalau dulu harus keluar masuk hutan berjuang, dan sembunyi dari penjajah, kini dia bisa melakukan perjalanan dari daerah asalnya sampai ibukota dengan damai mengendarai sepedanya. Dia bisa melihat jalan raya yang lebar hasil pembangunan dan hiruk pikuk ekonomi, dia bisa melihat ramainya roda kehidupan INDONESIA yang dulu mungkin tak terbayangkan oleh mereka.
Dengan apa kita akan membalas jasa-jasa mereka. Dengan gontok2an di media massa? Dengan berdebat kusir di forum2 dunia maya? Dengan kesombongan dan saling merendahkan? Dengan keangkuhan berusaha saling mengalahkan? Dan seumur hidupku untuk negeri inipun mungkin tak akan sebanding dengan perjuangan mereka.
Mereka berjuang untuk kemerdekaan, kita saat ini berjuang untuk Nafsu-Nafsu diri. Nafsu menguasai, nafsu ketenaran, nafsu memperkaya diri, nafsu mencari aman diri sendiri, nafsu memaksakan keinginan pribadi maupun kelompok, nafsu GILA HORMAT. Dan menurutku dengan itu semua, kita belum memerdekakan diri kita. Kita masih terjajah. Terjajah oleh arogansi yang dikendalikan nafsu-nafsu tersebut.
Kita mungkin pantas disebut generasi tak tahu malu oleh generasi mereka, yang seperti tidak berterima kasih, bahwa seharusnya kita meneruskan perjuangan mereka dengan sungguh2 dalam karya kita masing2, dengan menjaga kelangsungan hidup bangsa ini dengan persatuan bukan dengan perpecahan dan perseteruan.
Jika dulu masa perjuangan diletakkan dengan dasar atas nama satu tujuan MERDEKA!, dengan bahu-membahu semua lapisan golongan, cendekia ataupun gerilyawan, agamais ataupun awam, golongan kaya ataupun miskin, dengan mengangkat senjata ataupun dengan intelektualitas.
Tapi sekarang setelah lebih dari setengah abad berlalu, negeri ini dilanda krisis persatuan. Kepentingan politik, kelompok, golongan, bahkan atas nama ideologi seakan membuat bangsa ini lupa akan sejarah, bahwa bangsa kita yang telah dibangun dengan cucuran keringat, air mata, dan darah para pahlawan demi persatuan seluruh bangsa INDONESIA dalam sebuah kesatuan yang tak terpisahkan.
Seorang kawan pernah mengilustrasikan bahwa persatuan adalah ibarat Es Campur bukan seperti Kopi Susu Manis. Es Campur ada buah mangga, pepaya, kolang-kaling, melon, dan buah-buah lainnya, air, serta gula. Meski banyak ragam, namun tetap terasa nikmat ketika mencicipi keberagamannya. Bukan seperti Kopi susu yang harus dilebur jadi satu campur baur, sehingga semua terasa sama.
Merah Putih yang berkibar, hendaknya mengibarkan pula semangat keberanian (merah=berani) dan kesucian (putih=suci).
Berani bukan berarti hanya berani mati untuk membela kebenaran (atau mungkin pembenaran yang kita yakini), tapi juga berani menerima dan menghargai orang lain yang berbeda pandangan ataupun berbeda pendapat, berani untuk turun dari puncak kesombongan hati, serta berani untuk membuka hati.
Suci, dimanakah kesucian hati bangsa ini sekarang? Ketika yang dikobarkan hanya dengki, amarah, intimidasi, kekerasan, dan saling mencurigai.
Ahhh… sudah terlalu banyak bualan yang diumbar di negeri ini, bualan lewat orasi demonstrasi, bualan lewat konferensi pers, bualan lewan kutipan media cetak dan elektronik, bualan lewat diskusi dan talk show, bualan lewat dunia maya dan di forum-forum.
Dan akupun.. sekarang menyindir bualan mereka semua, juga dengan bualanku…
MERDEKA !! (dalam kata dan tindakan) !!
dan MERDEKA !! untuk Persatuan Bangsa yang ber-pri-kemanusiaan dan berkeadilan sosial..
June 22, 2008 at 1:39 pm
Nice Blog
Please visit me Back At http://www.Adminkidnet.blogspot.com
June 25, 2008 at 8:46 am
[quote]Yang membuatku tertarik, justru orang seperti dia yang malah peduli dengan keadaan sosial masyarakat indonesia yang sedang “sakit”.
[/quote]
Bukannya biasanya begitu mas?yg tau keadaan sosial masyarakat Indonesia ya masyarakat itu sendiri, alias wong cilik… “Yang diatas” itu kn lg menikmati kursi panas, klo ditinggalin korsinya, ntr dicomot yg lain :)) SOL
June 25, 2008 at 3:43 pm
benar.. hanya orang yg susah yang merasakannya…
June 26, 2008 at 9:54 am
hiks, mataku jadi berair membacanya. memang sih kita patut malu pada para pejuang 45 dan para veteran perang. mereka sudah memberikan segenap jiwa dan raga demi kemerdekaan negara kita ini, tetapi sekarang tampaknya kemerdekaan yang sudah diperoleh dengan darah dan air mata ini belum digunakan secara maksimal. Semangat nasionalisme semakin lama juga semakin tergerus dengan arus globalisasi. Banyak orang yang tidak bangga untuk menjadi orang Indonesia ….
July 7, 2008 at 1:31 pm
bro, kok gk pernah diupdate sih ? sibuk ya ?
July 11, 2008 at 2:41 pm
iya neh… banyak kerjaan.. nulis juga seh kerjaannya.. tapi lumayan nyita perhatian