i’m Back

Dua minggu lebih aku mengasingkan diri, menyelami dunia yang sama sekali berbeda dan tak pernah aku alami sebelumnya. tepatnya hari kamis (22/5) dini hari, diare akut menyerangku. semalaman aku bolak balik dari kamar kos ke WC, bahkan akupun tak sempat menyaksikan dan merasakan kegembiraan Klub Favoritku “Manchester United” berlaga dan meraih gelar Liga Champion Eropa.

menjelang siang hari, setelah datang ke dokter dan hanya diindikasi diare biasa, aku muntah sebelum makan siang. seluruh makanan yang ku makan di pagi hari keluar. rasanya tubuh tak ada energi dan zat makanan, semua keluar dari “atas” dan “bawah”. dengan diantar teman kos, aku di drop di UGD RS St. Borromeus, dan aku meminta di opname. yang ada dalam benakku saat itu, dalam keadaan seperti itu tak mungkin aku sebatang kara di kos, selain harus bolak-balik cari makanan yang sehat, bersih, lunak, dan banyak syarat lain.

aku di opname di kamar Yosef 3, selama 3 malam, dengan total 13 botol infus masuk ke dalam aliran darahku. sedangkan hasil lab menunjukkan baik semua. trombosit, suhu badan, tes urine dan faeces semuanya baik (kecuali faeces yang encer). Thypus, desentri, bakteri coli, telur cacing semuanya hasilnya negatif. Ada apa denganku?

hari pertama begitu berat menjalani kesepian dan kesendirian. ketika pasien-pasien di nomor-nomor sebelah ada yang menunggu 24 jam, banyak yang datang membesuk, sedangkan aku hanya sendiri dan berbekal sebotol besar air mineral di meja.
belum lagi di hari malam pertama nomor di depanku kritis dan pada pagi hari akhirnya berpulang ke Sang Khalik, tangis keluarga memecah keheningan ruangan itu.

di hari kedua, aku terhibur, teman-teman kantor datang menjenguk di sore hari, dan di malam hari ibu kos dan puteranya juga datang membesuk. namun kondisi belum juga merasa baik, botol infus masih di supplai ke tangan kiriku.

di hari ketiga, Ayah, ibu, Agnes, Mama, dan Papa datang dari semarang. bahagia sekali, orang-orang yang kucintai datang. menungguiku sampai sore hari, dan dilanjutkan esok paginya (hari minggu 25/5). keadaanku membaik, dokter memperbolehkanku pulang, namun harus tetap istirahat sampai hari kamis (29/5). orang-orang tersayang harus kembali ke semarag minggu malam karena mereka harus bekerja di hari senin (26/5) dan aku dititipkan di tempat saudara sampai keadaan benar-benar pulih. hari selasa (27/5) obat dari dokter sudah habis, namun keadaan kembali memburuk. diare kembali menyerang, sesekali disertai muntah, dan sakit perut luar biasa sepanjang tidur malam. aku mencoba bertahan. hari kamis, aku kembali datang ke dokter yang merawat selama di rumah sakit. kali ini, dia juga terkejut. dia mendiagnosa ada peradangan di saluran pencernaan.

aku minta surat rujukan untu di opname kembali, namun kali ini aku minta rujukan ke RS di Semarang (pengalaman kesepian dan kesendirian membuatku ingin pulang)
kamis malam (28/5), dengan Kereta Api Harina, aku ke semarang dengan kondisi yang begitu payah. sepanjang perjalanan, suara2 aneh seperti orkestra bergemuruh dari dalam perutku. sesekali aku bolak-balik ke toilet kereta api. begitu tidak nyaman semalaman di perjalanan. jam 5 pagi, kereta tiba di stasiun Tawang. dengan menyandang tas ransel penuh di punggung Agnes, mama, dan papa sudah menjemput, sedangkan ayah dan ibu menunggu di UGD RS St. Elisabeth.

berbekal surat rujukan dokter dan hasil analisa lab dari Bandung, aku dirawat kembali, kali ini tak mau kecolongan aku mempercayakan perawatanku kepada dokter spesialis penyakit dalam ( di bandung karena menganggap remeh diare, aku hanya menunjuk dokter umum). dalam beberapa hari keadaan membaik, “hanya” 3 botol infus yang di suplai, dan hasil foto scan, memang ada kelainan dalam usus besarku.
Ibarat sebuah ban, usus besar memiliki tekstur, seperti ban radial, yang berguna untuk menyerap air dan membusukkan sisa-sisa makanan. dalam ususku tekstur tersebut sudah aus, bahkan dalam foto terlihat polos. ya itulah yang menyebabkan usus besarku begitu sensitif, dan menyebabkan radang. dokter memvonisku untuk tidak memakan makanan pedas dan merica seumur hidup.

hari Selasa (3/6) aku keluar dari Rumah sakit, obat emergency dibekalkan dokter bila kambuh sewaktu-waktu, dan kini, semuanya serasa normal. dan kehidupanku berjalan sebagaimana mestinya di bandung kembali.

i’m back….

2 Responses to “i’m Back”

  1. Jingga Says:

    wii…gk boleh makan pedas seumur hidup. well sounds quite torching ya, tp ya demi kesehatan. gk boleh merica ya ?
    hmmm….. *mikir * gk boleh sup, gk boleh fast food, klo gitu mulai skrg musti diet ketat ya Om :) .
    tp berkat sakit akhirnya dijenguk sama mertua ^^

  2. briliano Says:

    makasih ya dah mampir.. iya.. dibawa santai aja hidup neh…

Leave a Reply