The Magnificent 7 United

The Magnificent 7 United merupakan mitos di “theater of dream” bahwa seorang penyandang nomor 7 dipunggungnya diharapkan akan membawa roh permainan bagi Manchester United. ibarat sebuah orchestra mereka adalah pembawa irama permainan bak seorang composer.
tanggung jawab, tempramental, tuntutan supporter, ketenaran, popularitas, skill yang luar biasa, kemewahan, uang harta, ketampanan, wanita, cidera, alkohol, hedonisme, menjadi tantangantersendiri bagi mereka untuk menjadi from zero to hero maupun sebaliknya.
best, coppel, robson, “king” cantona, becks, dan ronaldo, telah menyandangnya, dan keajaiban “7″ menjadi seperti kutukan dan takdir milik mereka.
berikut profil mereka yang berhasil dihimpun,
7. George Best

Best termasuk legendaris MU, sebuah klub selain besar dan ternama, bukan sekarang saja tetapi dari dulu MU terkenal profesionalisme, idealisme, sepakbola indah sekaligus bergelimangan uangnya. Maka tak heran ada semacam kesombongan dan keangkuhan jika pemain-pemain bisa bergabung di sana. Namun budaya Barat, semua itu sah sah saja, karena untuk berpredikat seperti itu orang harus bekerja keras terlebih dahulu.
George Best mengawali karir di MU dalam umur yang sangat muda,17 tahun, tahun 1963 seperti Wayne Rooney, bintang muda Inggeris sekarang ini dan kini berada di MU. Bakat besar, piawai mengolah bola, ditambah ketampanan wajahnya, maka Best langsung menjadi idola waktu itu. Berkat permainannya yang langsung mengangkat pamor MU memenangi Liga Premier, setelah menunggu waktu delapan tahun. Karena sezaman dengan kelompok musik ternama The Beatles dari kota Liverpool yang mendunia, ia dijuluki The Fifth Beatle.
Sayang, Best tak kuat memikul ketenaran dan terlibat alkohol dan terus menjadi semacam ketergantungan. Karir sepakbolanya cepat merosot karena sudah ketagihan pula dengan wanita serta kegemaran glamour yang cepat menghabiskan uang. Ketika dididepak dari MU, karir selanjutnya Best hanya bermain di klub-klub tak ternama. Seperti Stockport Country, Los Angeles Azstecs, Cork Celtic, Fulham, Fort Laudardale Strikers, Hibernian, San Jose Earthquakes, dan terakhir di Bournemouth. Menggantung sepatu pada usia sangat muda, 26 tahun.
Jalan hidupnya menjadi amburadul serta berusaha di jalur bisnis juga gagal total. Kegemaran buruknya terus berlanjut, sehingga pelan-pelan merusak organ-organ vital tubuhnya. Sehingga memerlukan transplatasi hati, meski melalui sebuah operasi sukses di tahun 2002. Namun organ bantuan ini hanya bisa berfungsi secara baik tiga tahun saja, karena tidak didukung oleh organ-organ vital yang lain yang juga sudah tergerus erosi air alkohol. Ia meninggal dengan meninggalkan satu anak, serta dua isteri dengan status cerai.
7. Steve Coppell

Karir United Steve Coppell terbagi dalam 2 tahapan besar. Tahap pertama adalah pemain muda berprospek cerah pada era manajer Tommy Docherty yang ahli dalam mendribble bola melewati lawan, berkelit dari lawan dengan anggun dan akurasi tinggi. Kemudian di era manajer Dave Sexton yang menjadi tonggak perubahan peran pemain muda cerdik kelahiran Liverpool ini. Penetrasi dan tusukannya -yang khas dan sangat berperan dalam mengangkat Red Devils dari mimpi buruk bermain di Divisi Dua – berganti menjadi gelandang kanan tengah yang berfungsi sebagai pengatur serangan. Steve Coppell dengan peran barunya ini menjadi pemain yang sangat berharga bagi tim besutan Sexton, yang hampir saja menjuarai liga dan FA Cup walaupun gagal mengangkat piala satupun juga, tapi permainan Coppell di peran barunya tidak terlalu memuaskan bagi fans seperti yang dulu.
Saat didatangkan United dari Tranmere, Coppell adalah pemain muda minim pengalaman. Transfernya sebesar 40.000 pounds dan tambahan 20.000 pounds bila ia dapat tampil minimal 20 kali! – debut Coppell adalah menggantikan Willie Morgan saat pertandingan dengan Cardiff City, 11 pertandingan menjelang berakhirnya musim Divisi Dua. Manchester United diprediksi akan menang mudah tapi setelah 1 jam belum ada gol sama sekali dan fans mulai gelisah. Tiga puluh menit kemudian United keluar sebagai pemenang dengan hasil 4-0 dan Coppell mencetak 2 gol di debutnya.
Setelah itu Steve selalu terpilih sebagai starter di posisi tersebut akhir musim dan musim-musim sesudahnya ia selalu pemain utama sampai terakhir cedera lutut parah – yang didapatkannya saat memperkuat timnas Inggris pada November 1981 – memaksa Coppell untuk pensiun pada usia 28 tahun, suatu keputusan berat yang diambil setelah tiga kali operasi dan frustasi berkepanjangan.
Salah satu kemungkinan kenapa terjadi penurunan pada performa Coppell dibandingkan performa puncaknya pada musim 1975/76 dan 1976/77 – dimana saat 2 musim tersebut ia dan Gordon Hill membentuk tandem sayap yang menakutkan – dikarenakan para pemain bertahan lawan mulai bisa meraba dan membaca cara mengatasinya. Mereka akan menjatuhkannya, sehingga membuat dirinya sulit melewati lawan, yang akhirnya mengurangi efektifitas Coppell. Ini sepertinya berkaitan dengan cara Steve melakukan penetrasi.
Di peran barunya saat era Sexton, Steve Coppell bermain sebanyak 4 musim, dimana determinasi, efektifitas dan kontribusi untuk keseluruhan permainan tim sangat luar biasa. Dan bila dikatakan dalam peran barunya, permainannya yang dulu menjadi jarang terlihat tapi ada waktu-waktu tertentu dimana ia melakukan serangan yang brillian dan mencetak gol penting.
Karir internasional Steve juga berkembang baik, banyak yang melihatnya seperti Bobby Charlton dalam hal integritas dan sportivitas. Dilengkapi dengan otak yang encer, berbagai kualitas ini membantu Steve – yang pernah menjabat sebagai ketua Asosiasi Pemain Profesional – mudah untuk bekerja sebagai manajer dan terbukti ia tidak perlu waktu lama untuk sukses sebagai manajer bersama Crystal Palace.
Tidak bisa terhindarkan, sukses Coppell bersama Crystal Palace menguatkan prediksi bahwa suatu hari nanti ia akan menduduki kursi manajer Old Trafford, dan bahkan ketika ia mundur sebagai manajer dari Selhurst Park menyusul degradasi pada tahun 1993 tidak pernah benar-benar menghilangkan prediksi tersebut. Tetapi kegagalannya mengatasi stress saat menangani Manchester City – dimana ia mundur dari Maine Road hanya dalam 33 hari menjabat sebagai manajer – membuat kesempatan Steve Coppell menangani Manchester United di masa depan terlihat semakin tipis. Namun dengan prestasi baik Steve Coppel bersama Reading musim 2006/07 ini, kemungkinan masih bisa membuatnya sebagai The Next Gaffer in Thearter of Dreams.
7. Bryan Robson

Bryan Robson, OBE adalah seorang legenda hidup sepakbola Inggris. Dia lahir pada 11 Januari 1957 di sebuah kota di Witton Gilbert, County Durham. Kemudian keluarganya pindah ke Chester-le-Street yang tidak jauh dari tempat kelahirannya pada saat dia berusia 6 tahun.
Robson memulai karir sepakbolanya pada tahun 1975 di klub West Bromwich Albion dengan menjadi bek kiri dan kemudian berubah menjadi pemain tengah. Debutnya terjadi ketika melawan York City di tahun yang sama. Di tahun berikutnya, Robson telah menjadi andalan di klubnya dan telah diakui sebagai salah satu pemain Inggris papan atas.
Pada tahun 1979, ia telah menjadi kapten pada klubnya. Kemudian memulai debutnya di tim Three Lions pada bulan Februari 1980 dengan menghadapi Republik Irlandia pada babak kualifikasi Eropa yang berakhir dengan kemenangan Inggris 2-0.
Meskipun Robson telah menjadi pemain tengah terbaik England dengan penampilannya yang memukau di West Bromwich, tetapi tetap saja pada saat itu banyak rumors yang menyatakan bahwa harga pembelian Bryan Robson oleh Ron Atkinson (pelatih United saat itu) sangat mahal. Dan tentu saja penjualannya memberikan pemasukan yang sangat banyak kepada klub tempatnya terdahulu (West Brom). Kemudian hal ini sering menjadi sebuah pertanyaan bagi public sepakbola Inggris. Tetapi Ron Atkinson berpendapat bahwa ia tidak akan rugi mengeluarkan uang berapapun jumlahnya untuk mendapatkan seorang Robson. Pada saat itu ia mengatakan “Sekarang kita telah mempunyai seseorang yang akan menjadi jenderal lapangan tengah United yang tidak takut untuk berduel dengan setiap lawan”.
Robbo adalah salah satu julukannya, dimana dia selalu bermain bak serigala yang tidak takut menghadapi setiap lawan. Itu adalah tipe bermain sang “Captain Marvel” julukannya selain Robbo dimana dia juga selalu bersemangat untuk memberikan kontribusi terbaik buat klub yang dibelanya. Julukan “Captain Marvel” didapatnya ketika bermain di Man United, yang telah membelinya dengan rekor pembelian £1.7 juta pada bulan Oktober 1981.
Dan ternyata ia melakukannya debutnya di United dengan baik. Dengan awal yang sangat tangguh, Bryan Robson menjadi kekuatan yang sangat dominan di tim ini. Ia kemudian mengambil alih posisi kapten kesebelasan baik di klubnya maupun di negaranya dari Ray Wilkins. Ia menggerakkan pertahanan seperti mesin yang terus berputar, mengatur penyerangan, dan lain-lain, pada intinya ia telah menjadi motivator terbaik bagi klub dan negaranya. Bahkan pada puncaknya pun, permainannya tidak pernah terlihat lemah. Tackling, passing, shooting, dan headingnya sangat baik. Selain itu kekuatan dan kecepatannya pun sangat tinggi serta caranya membaca pertandingan pun patut diacungin jempol. Permainannya di Man United tidak jauh berbeda ketika masih di klub terdahulunya.
Tetapi Bryan juga sering bermasalah dengan cedera. Pada saat ia masih di West Brom, ia pernah terkena cedera patah kaki 3 kali dalam kurun waktu 12 bulan. Setelah pindah ke Man United, ia sempet tidak produktif untuk mencetak gol, dan hal ini seringkali terjadi pada pertandingan yang penting untuk Man United dan tim nasional Inggris. Orang-orang sering menyalahkannya jika berbuat kesalahan (karena nilai transfernya yang sangat mahal). Didalam kasus Bryan ini, kritikus sering menulis berita negatif terhadap dirinya, tetapi jika orang lain yang melakukannya, maka akan dianggap positif, dan hal ini jelas-jelas tidak masuk akal.
Setelah menjalani musim yang fantastis, Bryan Robson kemudian pindah dari Man United menuju Middlesbrough dengan menjadi pemain merangkap manajer di klub yang sedang berjuang naik ke divisi utama pada tahun 1994. Kemudian Man United menghadapi masa depannya dengan keraguan tanpa seorang Robson, orang yang telah memenangkan FA Cup 3 kali dalam sejarah. Ada satu kejadian lucu, dimana ada sedikit persamaan julukan antara Robson yang dipanggil “Robbo” dengan Middlesbrough yand dijuluki “Boro”.
Banyak dari fans United yang berharap suatu saat nanti dia bisa kembali ke United sebagai manajer. Tapi banyak juga yang meragukannya, setelah melihat Robson tidak mampu menangani Middlesbrough sehingga harus terdegradasi pada tahun 2001. Ironisnya, yang menggantikan tempatnya adalah mantan asisten Sir Alex Ferguson yaitu Steve Mc Claren. Pada tahun 2004, dia mulai melatih klub yang pertama kali membesarkannya sebagai pemain. Tapi setelah menjalani 2 musim bersama West Bromwich Albion, dia akhirnya mengundurkan diri pada tahun 2006 setelah gagal menghindari klubnya dari jurang degradasi.
7. Eric Cantona

Eric Cantona yang merupakan salah satu dari ‘The Magnificent Seven’ dan jasanya sebagai ‘juru selamat’ bagi klub The Red Devils yang sukses dibawanya ke era kejayaan. Pemain depan flamboyan asal Perancis ini sendiri juga akhirnya menemukan ‘rumah’ di klub MU di bawah asuhan Sir Alex Ferguson yang mampu memahami dirinya dan mengoptimalkan kemampuannya di lapangan. Tidak berlebihan kalau sampai kini Eric Cantona sering diidentikkan dengan Manchester United. Tapi itu masih belum terjadi, paling tidak sampai berakhirnya musim 1991/92 dimana Leeds United berhasil juara Liga Inggris musim itu.
Kejayaan Manchester United berawal dari sebuah telepon dari presiden Leeds United kepada Martin Edwards (presiden komisaris MU saat itu) yang ingin menanyakan apakah MU berminat menjual Denis Irwin. Permintaan Leeds itu langsung ditolak tetapi pembicaraan itu tidak berhenti sampai disana karena ada secarik kertas dari Fergie kepadanya yang meminta untuk menanyakan tentang kemungkinan membeli Eric Cantona. Martin Edwards cukup kaget karena Eric Cantona merupakan salah satu kunci sukses Leeds United meraih title juara Liga Inggris musim 1991/92. Ternyata menambah kekagetan Martin Edwards, Howard Wilkinson (manajer Leeds) setuju menjualnya dan musim 1992/93, Eric Cantona resmi pindah dari Leeds United ke Manchester United hanya dengan biaya transfer sebesar 1.2 juta pounds. Waktu akan segera membuktikan ini adalah pembelian terbaik Sir Alex Ferguson, yang seperti kata Fergie, Eric Cantona adalah ‘the missing link’ yang selama ini dinantikannya.
Sampai kini alasan Leeds United bersedia menjual salah satu aset terbaiknya Eric Cantona ke rival mereka hanya seharga 1.2 juta pounds masih menjadi sebuah misteri. Walaupun banyak yang mengatakan bahwa pembelian Eric Cantona merupakan sebuah kesalahan besar karena temperamen Cantona yang gampang meledak, tapi Fergie tidak peduli dan demikian juga dengan kebanyakan fans United. Faktanya adalah dengan adanya Cantona berarti MU memiliki salah satu pemain paling berbakat di dunia yang mempunyai kemampuan paling komplet dalam hal merobek gawang lawan. Dan dalam hal ini penilaian Fergie sekali lagi terbukti benar.
Siapa yang tidak bergetar mengingat sosok Eric Cantona yang berdiri dengan penuh percaya diri di panggung Old Trafford dengan kerah baju diberdirikan, sebuah trend yang mungkin hanya akan selalu menjadi miliknya pribadi. Dengan imajinasi dan determinasinya, Eric Cantona tidak memerlukan waktu lama untuk membuat seluruh publik Old Trafford jatuh hati padanya. Cantona memberi dimensi lain pada permainan United yang akhirnya mengakhiri penantian panjang mereka dengan memenangkan title juara EPL pada musim itu juga (1992/93), dan diikuti dengan “double” juara EPL dan FA Cup di musim berikutnya (1993/94).
Kejadian di Selhurst Park bulan Januari 1995 saat pertandingan tandang Crystal Palace membuyarkan ambisi MU untuk mendapatkan juara EPL tiga kali berturut di musim 1995/96. Akibat “tendangan kungfu” Cantona pada fans lawan yang mengejeknya, ia harus rela mendapatkan hukuman dilarang tampil selama 8 bulan. Hampir saja MU kehilangan Cantona karenanya tetapi sentuhan emas Sir Alex Ferguson akhirnya sukses meyakinkannya untuk tetap bertahan menghadapi cobaan sulit ini. Hasilnya adalah pada musim 1995/96, Eric Cantona melakukan comeback saat pertandingan melawan Liverpool dan langsung mencetak gol lewat titik penalti. Tidak itu saja comeback Eric Cantona itu juga disertai dengan ban kapten di tangannya, ya Fergie resmi menunjuk Cantona sebagai kapten baru pasukannya. Hasilnya? MU mengulang “double” dengan memenangkan juara EPL mengandaskan ambisi Newcastle dan juga juara FA Cup berkat gol cantik di menit-menit akhir oleh……… Eric ‘The King’ Cantona. Benar-benar ‘Come Back With A Bang ala The King’.
Tanpa mengesampingkan sisi gelap Cantona yang pernah mencoreng karir sepakbolanya, akan tetapi gaya sepakbola Cantona sangat unik. Acap kali dia terlihat tidak peduli di saat rekan-rekannya sedang berjibaku di lapangan, tetapi tanpa terduga Cantona bisa mendapatkan posisi yang sangat bagus dan memulai kreasinya dengan berbagai operan jitu, mengatur serangan-serangan berbahaya hampir dengan penuh kesempurnaan bak seorang pemimpin orkestra. Selain seni kreasi nan indah, Cantona juga ditunjang dengan fisik yang atletis dan kuat sehingga seringkali ia mampu mengusir pemain bertahan lawan hanya dengan menggerakkan bahunya.
Walaupun demikian, pesona Eric Cantona yang paling mengesankan adalah berbagai gol indahnya. Ada yang disebut dengan istilah ‘rapier’ (gol yang berasal dari tendangan jarak dekat yang dilakukan dengan sangat elegan) atau ‘bludgeon’ (gol yang berasal dari tendangan keras jarak jauh yang juga salah satu spesialisasi Eric), tapi gol apapun hasilnya sama saja – keindahan tanpa cacat. Dan tidak mengherankan kalau dia mendapatkan penghargaan PFA Player of The Year 1994 dan Football Writers Player of The Year 1996, yang merupakan pengakuan untuk kemampuan dan juga persona seorang Eric Cantona. Bahkan Eric Cantona tercatat sebagai pemain asing pertama yang mendapatkan penghargaan sebagai pemain terbaik yang sekaligus membuka pintu gerbang bagi banyak pemain Perancis lainnya untuk berlaga di Liga Primer.
Memasuki awal musim 1996/97, Eric Cantona yang sudah berusia 31 tahun terlihat mengalami penurunan performa untuk pertama kalinya! Walaupun akhirnya membaik dan MU kembali membuka peluang untuk menjuarai EPL musim itu. Akan tetapi kegagalan Cantona memberi kontribusi positif untuk timnya yang mengalami kekalahan di semifinal UCL menjadi peringatan pada seluruh fansnya akan kemungkinan berakhirnya era The King Cantona dan memang demikianlah adanya. Seminggu setelah MU memastikan title juara EPL, Eric Cantona mengagetkan para fans dengan mengumumkan rencananya untuk pensiun. Mungkin suatu tindakan yang logis karena yang paling tidak diinginkan seorang Cantona adalah performanya perlahan tapi pasti menurun seiring bertambahnya usia; ia ingin datang dan pergi tetap dalam keadaan yang sama yaitu dalam kondisi puncak. Jutaan fans United akhirnya hanya dapat mengucapkan rasa terima kasih dan selamat tinggal sambil meratapi kepergian pemain kesayangan mereka, pemain yang juga sangat berpengaruh dalam perkembangan para pemain muda MU yang nantinya akan terkenal dengan sebutan Class of ’92.
Pengaruh seorang Eric Cantona bahkan masih dapat dilihat dari permainan United saat ini terutama dari pemain-pemain Class of ’92 seperti Paul Scholes, David Beckham, Ryan Giggs dkk yang memiliki cara bermain yang berbeda dengan rata-rata pemain Inggris yang sebelumnya kental tradisi Kick & Rush. Selain pemain, para fans juga tidak pernah melupakan The King Cantona, mereka masih sering menyanyikan lagu puja-puji tentang Eric Cantona yang sangat popular yaitu ‘Ooh.. Aah.. Cantona’.
Kalau kita ingat kembali tahun 1992, Eric Cantona saat itu dianggap sebagai pemain yang temperamental dan tidak terkontrol, seorang petualang yang tidak pernah betah bertahan lama di sebuah klub. Tapi betapa salahnya anggapan itu karena bersama Manchester United, sihir Cantona sukses menyilaukan semua orang dan menjadikannya salah satu sosok paling berpengaruh pada persepakbolaan Inggris. LUAR BIASA!
7. David Beckham :

Di Manchester United dia bukan hanya seorang pemain namun sudah menjadi seorang ikon olahraga dunia. Istrinya yang seorang bintang pop dan superbintang gaya hidup di media membawanya menjadi seorang selebriti sepakbola. Deal-deal sponsor komersial yang tiada henti-hentinya didapatkannya itu serta promosi diri, membuatnya dikritik lebih sebagai seorang brand marketing atau merek dagang ketimbang seorang olahragawan.
Pada akhirnya Status selebriti yang dimiliki beckham menjadi ancaman hingga persaingan bahkan bagi klub sepakbola paling popular diplanet ini. Namun hal ini seharusnya tidak menutupi kenyataan ketika dia berseragam merah United, Para pendukung United tidak peduli dengan semuanya itu. Apa yang dia lakukan dilapangan adalah yang menjadi perhatian. Dan Talenta sepakbola ynag dimiliknya tidak dapat disangkal oleh siapapun.
Seorang pengumpan dan pengumpan bola silang yang fantastis, baik jarak jauh maupun dekat dengan variasi serta jarak umpan yang fenomenal. Dan Beckham sebagai Salah satu penendang jarak jauh terbaik didunia, dengan umpan yang memecah pertahanan lawan, dari daerah sayap atau tengah, dan umpan silangnya itu menjadi amunisi mematikan bagi para penyerang United.
Dengan kemampuan tendangan menakutkan yang dimilikinya, dia dapat mencetak gol-gol spektakuler. Sebagai tambahan dia juga seorang pemain yang ulet dan pantang menyerah, berlari tanpa bola dan bergerak tanpa lelah, hingga peluit akhir dibunyikan.
Dia adalah bagian dari jiwa klub dipertengahan tahun 90-an yang mengatakan “Semakin anda membenci kami maka kami akan semakin bersatu dan membuktikan bahwa anda salah”.
Orangtuanya memutuskan bahwa dia harus menyelesaikan sekolahnya sehingga baru pada tahun 1991 dia menjadi seorang Trainee, sebelum menandatangani kontrak profesionalnya tahun 1993. Debutnya di united dilakukan sewaktu menjadi pemain pengganti melawan Brighton pada September 1992, namun baru dua tahun kemudian dia mulai bermain menjadi starter sewaktu melawan Galatasaray pada Nov 1994 dimana dia mencetak gol dipertandingan itu.
Beckham tidak lama setelah itu dipinjamkan ke Preston NE untuk lima pertandingan untuk memperoleh pengalaman bertanding di tim utama dan pada bulan April 1995, dia membuat debut penuh pertamanya di Liga sewaktu melawan Leeds United di Old Trafford.
Penampilan Beckham semakin menjanjikan dimusim 1996 sebagai salah satu pemain andalan Fergie dengan mengumumkan kedatangan dirinya melalui gol yang dicetak sejauh 30 yard di Aston Villa. Penjualan Andrei Kanchelskis dan kepercayaan manajer kepadanya memberikan Beckham peluang.
Dia benar-benar menjadi berita utama dimusim 1996-1997 karena Gol yang dicetaknya sewaktu melawan Wimbledon, yang merupakan gol terbaik musim itu, sejauh 55 yard dari garis tengah lapangan di hari pembuka. Sejak saat itu Media tidak pernah puas memberitakannya. Setelah penampilannya yang hebat dimusim itu, menambah reputasi melalui gol spektakuler dari jarak jauh dan dengan pacarnya yang merupakan salah seorang anggota Spice Girls, semuanya melengkapi David Beckham sebagai selebriti nasional.
Dia membantu United memperoleh gelar lagi ditahun 1997 dan tidak lama itu dia dipanggil masuk ke tim nasional inggris. Setelah akhir yang mengecewakan dimusim 1998 dimana United kehilangan gelar juaranya, Beckham kembali mendapatkan mimpi buruk sewaktu putaran final Piala Dunia di Prancis tahun 1998. meskipun dia mencetak gol yang brilian sewaktu melawan Kolombia, dia dikeluarkan pada pertandingan melawan Argentina di putaran kedua karena dengan sengaja menendang Diego Simeone.
Sebuah kartu kuning sebenarnya hukuman yang cocok untuknya namun wasit mengeluarkan kartu merah. Inggris bermain dengan 10 orang pemain dan imbang 2-2, kemudian kalah dalam adu pinalti. Media dan para pendukung klub rival United menyalahkannya atas tersingkirnya Inggris, dengan mengatakan bahwa, dengan sepuluh orang pemain dia telah memupus harapan mereka untuk memenangi pertandingan itu dan keseluruhan turnamen. Hingga Pemain tengah itu sempat menjadi figure nasional yang paling dibenci di Inggris.
Musim 1998-1999 dimulai dengan keraguan atas masa depannya di persepakbolaan Inggris dan setiap kali dia memegang bola pasti selalu di teriaki oleh pendukung lawan. Pada masa-masa gelap ini, titik terang hanya datang dari Klub dan para pendukung yang merespon teriakan para pendukung lawan itu dengan memberikan dukungan tanpa henti. Karakter yang kuat dalam dirinya dibutuhkan untuk menghadapi cemoohan itu dan Beckham menunjukkan karakternya itu. Neraka berubah menjadi surga ketika dia menasbihkan diri sebagai salah satu pemain terbaik dunia sewaktu membawa united meraih gelar treble. Piala dunia 1998 yang terus menghantuinya, akhirnya menghilang dengan sendirinya dan menjadikan Beckham sebagai pesepakbola hebat seperti yang selalu dia inginkan.
Image yang tak terlupakan yaitu pada menit-menit akhir final Liga Champions, dimana sepanjang pertandingan United hampir putus asa menyamakan kedudukan, namun beckham berlari untuk mengambil tendangan sudut dan akhirnya dapat diselesaikan oleh sherringham dan Solskjaer. Ketika beckham menari-nari dilapangan dengan trofi liga championnya di Nou Camp saat itu pula dia telah membayar kesalahan sebleumnya dengan sempurna.
Dimusim 1999-2000 merupakan musim yang campur-aduk bagi beckham, dia baru bermain lebih baik setelah bulan February di musim itu. Perhatian dan kritikan dari media bermunculan karena kurangnya gol maupun assist yang diberikan dan itu mencapai puncaknya hanya sebelum bertemu Leeds dibulan February yang merupakan partai krusial. Beckham pernah tidak mengikuti satu sesi latihan, berargumen dengan Ferguson dan sempat di keluarkan dari tim.
Musim 2000-2001 dimulai secara brilian oleh Beckham. Dia berada di penampilan puncak dan tidak dapan berhenti mencetak gol. Gol hebat sewaktu melawan Bradford, tendangan bebas melawan Ipswich, WestHam, Leeds, Coventry dan sewaktu derby melawan Manchester City. Namun putaran kedua musim itu dia bermain mengecewakan, bermain jauh dibawah standarnya dan gagal untuk mencapai performa puncaknya lagi, khususnya dikancah eropa.
Obsesi media kepadanya meningkat dengan di luncurkannya buku pribadinya, documentary special ITV, dan iklannya bersama Adidas dan Pepsi. Pada perjalanannya ke timur jauh, dia bertemu ribuan fans yang berteriak histeris kepadanya hampir seperti the Beatles.
Pencapaian besar dirinya yaitu ketika ditunjuk sebagai kapten Inggris oleh Sven Goran Eriksson pada januari 2001. Hal itu adalah peran Beckham yang dijalankan dengan kebanggaan serta antusiasme dan itu ditunjukkan dengan penampilannya yang sterus mencetak gol bagi timnya. Dia melesakkan bola kegawang Finlandia di Anfield pada bulan Maret, kemudian berpenampilan kembali dengan gaya Mohawk,
Tendangan bebas yang mengagumkan sewaktu melawan mexico dibulan Mei kemudian diikuti dengan gol set piecenya melawan yunani pada bulan juni. Pada saat itu inggris ketinggalan 2-1, namun tendangan legendarisnya dimenit akhir menyamakan kedudukan menjadi 2-2, dan membuat inggris secara otomatis lolos langsung ke Korea dan Jepang. Imejnya yang ebrtarung disetiap perebutan bola dan berlari disetiap sudut lapangan selama pertandingan itu akan selalu berada dalam kenangan yang panjang.
Bagi United dia memiliki musim yang hebat yang pernah ada dimusim 2001-2002 ketika jumlah golnya dimusim itu mencapai 16 gol. Gol yang paling spektakuler yaitu sewaktu melawan Deportivo, tendangan sejauh 30 yard, West ham, ketika dia mencetak gol melewati David james dan Tottenham, dimana dia mencetak gol untuk membalikkan keadaan menjadi 5-3. Dia juga mencetak gol dari beberapa tendangan bebas dan mengambil beberapa tendangan pinalti.
Dipertengahan musim sepertinya Beckham kelihatan Lelah dan kurang antusias lagi bermain. Hal itu menyebabkan fergie mengistirahatkannya selama lebih dari sebulan. Dia kembali dengan lebih baik lagi pada tahun baru namun musim itu diakhiri dengan takle yang membaahayakan dari pemain deportivo, Pedro Duscher. Patah tulang metatarsal dikakinya membuat hampir seluruh rakyat inggris panic karena takut beckham akan melewati piala Dunia.
Di piala dunia Korea-Jepang, Beckham mania memenuhi jepang dan dia mencetak gol bersejarah ketika sukses menendang pinalti ke gawang argentina untuk melengkapi dendamnya atas kejadian prancis 98. Dia memimpin inggris hingga perempat final, dimana brazil akhirnya mengakhiri mimpi mereka dengan kekalahan 2-1.
Musim berikutnya, Pada bulan November, Dia mengalami cedera yang membuatnya tidak bermain dan seperti musim sebelumnya, Becks menghuni bangku cadangan untuk jangka waktu yang lama.
Ole Solskjaer mengisi posisi yang ditinggalkannya namun Beckham mulai bermain lagi dibulan januari. Pada bulan februari kejadian besar menimpanya, ketika United dikalahkan Arsenal 2-0, Sir Alex Ferguson menendang sepatu dikamar ganti dan secara tidak sengaja mengenai pelipis Beckham. Kejadian itu menjadi berita besar dan media berspekulasi bahwa kejadian itu akan mengakhiri karirnya di United.
David sangat sakit hati karena dibangkucadangkan saat melawan Madrid dan berbicara kepada agennya untuk mengatakan kepada tim-tim besar di eropa bahwa dia siap untuk pergi dari United. Ketika Becks mencetak gol kegawang Charlton, pertandingan terakhirnya di OT, Dia sepertinya membuat perpisahan kepada para pendukung. Namun dihari-hari berikutnya dia menyatakan bahwa dia tidak akan pergi kemanapun dan masih mencintai Manchester United dimana dia mengoleksi medali kejuaraan lagi.
Namun, hal itu menjadi sebuah taktik. Di awal juni United mengumumkan bahwa dia mencapai kesepakatan dengan Barcelona senilai 23 juta pound, meskipun tahu bahwa dia sedang bernegoisasi dengan Real Madrid.
Seperti diduga jauh sebelumnya, Beckham sudah ingin bermain di Bernabeu dan mereka ingin juga menambah koleksi pemain bintang mereka. Deal dengan Barca tidak pernah dimulai, dan akhirnya United setuju dengan awaran el Real senilai 24,5 juta pound.
7. Cristiano Ronaldo

Menggeluti sepakbola dengan serius sejak usianya baru menginjak delapan tahun, Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro atau yang dikenal dengan Cristiano Ronaldo, langsung memikat para pemilik klub di Portugal. Ia ditarik menjadi anggota klub yunior Andorinha tempat ayahnya bekerja sebagai penyedia perlengkapan.
Pada usia sepuluh tahun, bakat pemain kelahiran 5 Februari 1985 itu sudah tercium banyak klub profesional. Dua klub berebut mendapatkannya, yakni CS Maritimo dan CD Nacional. Maritimo adalah klub yang cukup besar, sayangnya mereka terlambat mendatangkan Ronaldo kecil yang keburu bergabung dengan CD Nacional.
Di klub junior itu, Ronaldo ikut mengantarkan klubnya memenangkan gelar kejuaraan nasional. Ia kemudian diberi kesempatan berlatih selama tiga hari di klub profesional, Sporting Lisbon. Sporting kemudian merekrutnya pada saat Ronaldo masih berusia 14 tahun. Ronaldo bergabung dengan klub yunior Sporting yang berlatih di Alcochete yang dikenal sebagai ‘pabrik sepkbola’ di Portugal.
Ronaldo kemudian terpilih sebagai pemain Timnas Portugal yang mengikuti kejuaraan UEFA U-17. Penampilannya di ajang itulah yang membuat namanya mulai dilirik klub-klub besar dunia. Orang yang pertama kali jatuh cinta pada Ronaldo adalah mantan pelatih Liverpool, Gerard Houllier. Houllier berniat mendatangkan Ronaldo ke Anfield. Tetapi karena usianya masih 16 tahun, manajemen klub memutuskan untuk memberi Ronaldo waktu. Tetapi, tahun 2003, Liverpool justru kalah cepat dari Manchester United yang berhasil memboyongnya ke Old Trafford dengan trnasfer sebesar 12,24 juta pound.
Sir Alex Ferguson, pelatih MU benar-benar terpikat dengan penampilan Ronaldo yang dinilainya sangat dinamis, bisa bermain sebagai gelandang serang, pemain sayap, bahkan, menjadi striker jika dibutuhkan. Kedatangan Ronaldo ke Old Trafford bersamaan dengan kepergian bintang mereka, David Beckham ke Real Madrid. Karena itu, kedatangan Ronaldo disambut gegap gempita, bahkan ia dianugerahi kaos nomor 7, nomor keramat milik Beckham. Dan Ronaldo membuktikan dirinya, bahwa ia pantas memakai nomor itu.
Di Timnas, Ronaldo memulai debutnya Agustus 2003 saat Portugal menghadapi Khazakstan. Ia menyumbang satu-satunya gol Portugal saat mereka dikalahkan Yunani 1-2 di partai pembuka Euro 2004 yang diadakan di negaranya. Ia juga menyumbang satu gol saat mereka mengalahkan Belanda di perempat final. Sayangya ia gagal menyumbang gol di partai final saat negaranya kembali dikalahkan Yunani.
Di babak kualifikasi Piala Dunia 2006 zona Eropa, ia menyumbang 7 gol untuk timnya. Di Jerman, ia menjadi pilihan utama pelatih Portugal Luis Felipe Scolari. Ronaldo mencetak gol pertamanya di Piala Dunia dari titik putih saat mereka mengalahkan Iran. Portugal kemudian bertemu Inggris di babak perempat final. Ia bertemu dengan teman-temannya sesama MU, terutama sahabatnya Wayne Rooney. Celakanya, Ronaldo malah berseteru dengan Rooney saat menjatuhkan teman setimnya, Ricardo Carvalho. Ronaldo dituduh memprovokasi wasit untuk memberi kartu merah kepada Rooney, hubungannya merenggang.
Ronaldo mencetak gol terakhir saat pertandingan itu harus diakhiri dengan adu penalti. Dan setelah itu, hubungannya dengan MU makin merenggang. Berkali-kali ia menyatakan keinginannya untuk hijrah ke Spanyol, apalagi ia mendapat tawaran dari calon Presiden Real Madrid, Villar Mir. Tetapi, hingga saat ini, MU tetap tak melepasnya, apalgi Ronaldo terikat kontrak di Old Trafford hingga tahun 2010.
Semenjak itu permainan ronaldo semakin menggila, semakin bertambah menawan dari musim ke musim. gol2, kocekan, tendangan bebasnya pun semakin tajam. sehingga dia didaulat sebagai pengambil free kick, setelah sepeninggal beckham jarang lagi terihat tendangan bebas yang tajam merobek gawang di theater of dream.
bahkan rekor gol winger tersubur MU selama semusim milik George Best-pun dipecahkannya, tak tanggung2 dia pun berlomba di papan atas top score Liga Inggris bersaing bersama para strikertop sekelas Drogba ataupun Torres. di usianya yang masih sangat muda, Ronaldo akan menjadi Legenda baru buat The Red Devils
Selain dikenal sebagai pesepakbola yang brilian, Ronaldo juga dikenal dengan sifat sosialnya. Publik sepakbola Indonesia mungkin takkan lupa atas kedatangannya untuk mengunjungi korban tsunami Aceh dan santunannya kepada salah seorang anak Aceh bernama Martunis yang dilihatnya di televisi menggunakan kaos Timnas Portugal.
Referensi:
Ignatius Sunito, http://www.bolanews.com/sunito/11641.php
Dann496, http://www.indomanutd.info/legend_tampil.php?id=10
Simply Red, http://www.indomanutd.info/legend_tampil.php?id=24
Dann496, http://www.indomanutd.info/legend_tampil.php?id=2
http://www.id-manutd.com/legenddetail.php?pilihlegend=9
http://www.liputanbola.com/fitur/?id=160
April 26, 2008 at 4:47 pm
go ronaldo come On U’re the best Bro………………..
Hmmm i thing u are so wonderfuL PLAYER …………..
April 26, 2008 at 4:48 pm
GO ronaldoooooooooooooooooooo