“Perang” Tanpa Kode Etik

saat ini sedang ramai “Perang Iklan” di tengah2 dunia bisnis di negeri ini. dari perang tarif operator seluler, perang iklan jamu masuk angin, perang iklan sepeda motor, yang semakin lama semakin meninggalkan kaidah dan kode etik periklanan.

seperti di sini misalnya.

pada perang tarif operator selular semua hampir setuju, bahwa konsumen yang akan diuntungkan, tapi ternyata tidak menurutku. banyak penipuan yang menyesatkan oleh iklan tersebut yang malah merugikan konsumen.

di surat pembaca harian Kompas 16 Maret 2008, terdapat keluhan seorang konsumen yang merasa tertipu oleh iklan operator seluler IM3 yang menjanjikan tarif murah 0.0000…1 per detik ke semua operator. dia tertipu setelah menghubungi call center ternyata tarif yang diterapkan adalah selang-seling antara tarif normal dan promo dengan periode waktu tertentu. sedangkan konsumen tersebut tidak memperoleh informasi itu di Iklan yang dipublikasikan.
ini bukan kali pertama, di media-media massa, di surat pembaca banyak keluhan2 serupa.

saya pribadi juga tergiur dengan tarif murah yang ditawarkan salah satu operator selular XL bebas. dan saya masih menggunakannya sebagai nomor selular cadangan di HP saya yang nganggur. sejak wal produk ini menawarkan janji manis tarif tersebut saya memang tidak langsung percaya. selalu saya kroscek dengan website resmi operator tersebut, dan melihat pola pentarifannya. dan ternyata memang jauh banget dari intepretasi masyarakat yang hanya melihat iklannya. ini berarti sudah terjadi pembodohan bahkan penipuan terhadap masyarakat sebagai konsumen melalui iklan. seperti halnya tarif Rp 600,- sepuasnya yang digembar-gemborkan. ternyata berlaku dari jam 23.00 sampai jam 11.00, dan di iklan yang disajikan ternyata tidak diinformasikan.

tak hanya di situ, penipuan terselubung pun ternyata masih berlanjut. bagaimana dengan slogan SEPUASNYA. padahal setiap satu jam koneksi secara otomatis terputus. kalau konsumen belum puas telpon selama satu jam, berarti slogan SEPUASNYA adalah lamis (bahasa jawa: manis di bibir saja.red).

tunggu!! penipuan yang menyesatkan masih belum berhenti sampai di situ. tarif Rp 600,- sepuasnya kan berlaku dari 23.00 sampai 11.00, bagaimana jika kita menelepon pukul 23.00 kurang atau jam 11.00 kurang ?
misalkan kita menelepon pukul 22.50 ketika durasi percakapan masih berjalan dan melewati pukul 23.00 ternyata koneksi secara otomatis juga terputus, karena perubahan pentarifan, dan ketika kita menelepon kembali, 0.0000..1 yang sebelumnya tidak diakumulasi, artinya kita mulai lagi dengan pentarifan baru yang berlaku pada jam tersebut. begitupula misalkan ketika menelepon pukul 10.55 dan pada pukul 11.00 koneksi juga terputus, karena harus mengulangi dengan pentarifan yang baru. wah.. ribet amat..

saya pribadi bukannya tidak suka dengan tarif yang semakin ringan, namun “pembodohan” yang dilakukan terhadap konsumen tersebut jelas2 penipuan.

jangan mudah percaya !!

3 Responses to ““Perang” Tanpa Kode Etik”

  1. sejauh ini, sayah diuntungkan dengan perang tarif inih..
    kita liat aja sapa yang bertahan lama..

  2. bener mbak tika, masalah tarifnya memang menguntungkan.
    hanya saja iklan yang cenderung “menipu” itu yang perlu dikritis-i.

  3. perang tarif penuh dengan konspirasi tingkat tinggi…
    sehingga kita yang berada “diluar sistem” hanyalah jadi “korban” peperangan itu..

    salam kenal mas :)

Leave a Reply