Fanatisme Aliran Musik
Musik adalah sebuah relaksasi untuk indera pendengaran kita. jika mata punya relaksasi dengan berkedip atau memejamkan mata, kulit punya relaksasi dengan di pijat dan dibelai, lidah relaksasi dengan makanan enak, dan hidung dengan bau harum, maka telinga punya musik untuk menyamankannya.
Banyak sekali warna musik di dunia ini dari musik daerah sampai musik populer, semuanya tergantung dengan selera setiap orang. ada yang menyukai lagu yang lembut, ada yang menyukai lagu yang menghentak, ada yang menyukai lagu yang mendayu, ataupun lagu-lagu yang keras. pengemar musik percaya warna musik adalah gambaran jiwa masing-masing penikmatnya.
warna musik dengan ciri tertentu sering disebut dengan “aliran“, dan ada banyak aliran musik yang dikenal sampai saat ini, ada musik klasik, blues, rock, pop, jazz, dangdut, reggae dan lain sebagainya. bahkan diantara aliran2 musik akan bermutasi menjadi aliran2 baru yang terus bermunculan.
sebut saja R n B, aliran yang disebut Rhythm and Blues, kemudian dikenal juga Slow Rock, PopRock, Rock n Roll, Hip Metal, Alternatif, progressif rock, heavy metal, Punk rock, Rap, Ska, dan sebagainya.
masing-masing aliran memiliki ciri khas masing-masing bahkan dari bentuk tampilan penggemarnya yang mencitrakan seperti apa musik dan jiwa mereka. dan musik ternyata adalah fanatisme baru yang patut diperhatikan.
Misalkan penggemar R n B menyebut musik dangdut adalah kuno dan kampungan yang identik dengan orang udik, atau penggemar Jazz mengatakan penganut punk dan rock adalah orang-orang urakan, adalagi penggemar musik Rock menyebut penganut pop adalah orang yang kepribadiannya lembek atau cengeng.
ungkapan-ungkapan itu sering terlontar dalam pergaulan sehari-hari, entah disadari dengan cermat ataupun tidak. seorang penikmat musik sebagai seni, seharusnya tidak “melecehkan” aliran musik lainnya, karena patut juga dihargai keberagaman cara menikmati sebuah seni. memang sangat berbeda dengan pecinta lukisan yang juga memiliki aliran atau gaya. juga penikmat seni sastra dengan berbagai gaya dan aliran cenderung tidak saling mengagungkan alirannya masing-masing.
seperti yang pernah terjadi di era 80-90an, fanatisme anak grunge penggemar nirvana dan penggemar Guns N’ Roses yang saling mendewakan idol mereka dan meremehkan aliran musik “lawan”nya. Juga yang pernah terjadi di Indonesia seorang pembawa acara musik mengenakan kaos yang bertulisan melecehkan nama band tertentu.
musik adalah bagian dari keratifitas manusia yang patut dihargai, apalagi saling bertikai karena sekedar kebanggaan terhadap sang idol. di Indonesia sendiri masih sering terjadi pertikaian antara penggemar2 band/penyanyi tertentu. seperti dua kelompok fans musik terbesar di indonesia, slankers dan oi yang beberapa kali pernah terlibat kericuhan saat konser bersama.
lebih jauh aliran musik telah seperti partai politik dengan simpatisannya, juga seperti klub sepakbola dengan suporter fanatiknya, bahkanmenjadi seperti agama lengkap dengan umattnya, tak jarang satu aliran anti terhadap aliran lainnya, atau satu aliran merasa lebih baik dari aliran lainnya.
saya pribadi seorang penikmat musik, dari dangdut, sampai rock, dari R n B sampai slow rock, tak ada masalah dengan sensitifitas telinga saya untuk mendengarkannya. hanya saja warna musik mana yang ingin di dengarkan mungkin tergantung suasana hati. Ketika sedih mungkin akan terasa nyaman mendengarkan musik slow rock, atau ketika jatuh cinta akan semakin nyaman mendengarkan musik pop yang melankolis, ketika marah mungkin cocok dengan suasana musik rock ataupun pop rock, semuanya sebuah pilihan untuk bagaimana menikmati musik.
dalam sebuah film pun, musik menjadi warna penting untuk mempengaruhi suasana hati penonton. film horor tentu akan menjadi kurang menegangkan apabila di iringi soundtrack yang ber genre Hip-Hop, atau ketika suasana perang akan terasa kurang greget apabila diiringi musik reggae, dan adegan romantis tentu lebih cocok dengan musik pop slow ataupun smooth jazz. maka tak heran industri film dan industri musik saat ini semakin berkolaborasi. ketika sebuah film diluncurkan, album Original Soundtracknya juga mengiringi. tentu itu sebuah sinergi positif.
fungsi lain dari aliran musik adalah sebagai identitas, terutama untuk musik2 khas daerah. misalkan musik Reggae yang menjadi identitas musik daerah orang pantai, musik dangdut menjadi identitas musik melayu, juga musik-musik daerah di nusantara yang menjadi identitas kedaerahan seperti, Lagu langgam yang melekat pada identitas masyarakat jawa, lagu betawi dengan warna musik tajidornya, dan lain sebagainya.
bagi saya musik adalah sebuah seni bukan sebuah keyakinan, memang musik memiliki idealisme yang banyak dipertahankan oleh pecintanya pada jalurnya, namun musik yang aku sukai bukan untuk dibela dengan hidup-mati.
dan jutaan musik dan lagu entah dari aliran manapun, ternyata memiliki dasar tangga nada satu oktaf: do, re, mi, fa ,sol, la , si, do. tapi berbagai warna musik, lagu dan aliran, dapat tercipta dengan simphoni yang lain.
itulah hakikat tunggal dan keragaman. seperti hakikat manusia yang memiliki kesamaan anatomi namun dengan free will yang berbeda-beda.
February 18, 2008 at 7:27 am
Huhuyyy… Let’s talk about music..
Keep Rockin’ Blues Yeah…
March 12, 2008 at 11:23 am
hayyy guy how are you?
March 12, 2008 at 11:33 am
i’m fine, yuni.
April 17, 2008 at 5:13 pm
salam kenal akh,,, blog nya seru euy,,,,
April 18, 2008 at 6:25 pm
Semua artikel berita di blog ini menarik dan bagus-bagus. Anda bisa lebih mempopulerkan artikel anda di infoGue.com agar lebih bermanfaat bagi pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://www.infogue.com/musik/fanatisme_aliran_musik/
September 4, 2008 at 6:52 pm
wah,bagus banget..
thx..udah banyak memberi masukan dari blogmu
February 16, 2009 at 9:25 am
alow aku mau tanya apa sih arti aliran musik rock itu,aku belum paham soal ini.
July 1, 2009 at 8:30 am
musik universal ya..bos.. .daveplasenta.blogspot.com
.