Menggugat Kebutaan Hati

Warning !!!
Tulisan ini harus dibaca dengan pikiran dan hati terbuka, tulisan ini adalah pemikiran secara filsafat dan bukan untuk manusia yang memiliki hati dan pikiran yang tertutup. jika anda belum siap membuka hati anda lebih baik klik icon
[x] di kanan atas halaman ini.

benarkah anda sudah siap membuka hati? ingin terus membaca? jangan menyesal !!
mari kita mulai…

Terkadang kita akan berpikir, mengapa manusia bisa sangat kejam, bengis, dan berbuat di luar batas kewajaran?
Perang, penindasan, penganiayaan, dan perbuatan keji lainnya tentu sangat sering kita dengar dalam berita kriminal di media massa, maupun catatan sejarah.

Misalnya juga tentang hukuman mati, sebuah hukuman yang dilakukan negara atas nama hukum untuk menghilangkan nyawa seseorang. misalkan di Arab Saudi dan iran, dikenal hukuman mati dengan pemancungan kepala. Di Amerika serikat terpidana mati dieksekusi dengan kursi listrik. kemudian di Mesir, irak, jepang, yordania, pakistan, singapura dan malaysia mengenal hukuman gantung untuk terpidana mati. Di afganistan dikenal hukuman rajam, dan di negara-negara lainnya termasuk indonesia terpidana mati di eksekusi dengan hukuman tembak.

Kebengisan manusia lainnya adalah perang dan penindasan. apapun alasannya, perang, penindasan dan pembunuhan adalah sebuah tindakan yang mendahului Kehendak Tuhan untuk menghapus nyawa seseorang.

Sebenarnya manusia bukanlah makhluk yang kejam atau bengis. Manusia bisa menjadi kejam, dan bengis karena merasa tidak bahagia, dan atau karena suatu IDEOLOGI. ideologi membentur dengan ideologi lainnya, Sistem melawan sistem lainnya, atau Agama melawan agama lainnya.
Manusia seringkali terhimpit diantara Sistem, Ideologi, atau bahkan Agama yang dianutnya, sehingga membuat manusia menjadi bengis.

Sistem, Ideologi, atau Agama yang dipahami dengan “buta hati” akan membuat manusia memandang Sistem, Ideologi ataupun Agama yang lain adalah tidak benar. “Hanya sistemku yang benar, hanya ideologiku yang pas, dan Hanya Agamaku yang direstui Tuhan, Hanya suku bangsaku yang paling mulia, dan semua yang lain adalah tidak benar” dan pandangan2 itulah sumber kebengisan manusia pada sesungguhnya.

Mungkin Orang2 yahudi yang menyalibkan Yesus adalah ayah yang baik, yang mencintai keluarganya, namun karena suatu Ideologi agama yang dipahami dengan buta hati, maka mereka bisa begitu kejam menyiksa dan membunuh.

Mungkin Orang2 Kristen yang mengangkat pedang di perang salib, adalah para kepala keluarga yang mencintai anak istrinya, dan orang yang berbakti kepada orang tuanya. namun karena Ideologi Agama, mereka mengangkat perang dan pertumpahan darah atas nama Tuhan.

Mungkin Orang2 Al-Qaedah, dan para pelaku teror atas nama Jihad, adalah para pria yang bertanggung jawab dalam rumah tangga. mungkin mereka adalah ayah yang menyayangi anak dan istri. namun karena Ideologi yang diyakini pula, mereka bisa menjadi pembunuh.

Mungkin para tentara Amerika yang meng-invasi irak adalah orang-orang yang suka menolong sesama, mungkin mereka juga para kepala keluarga yang bertanggung jawab. Namun karena Sistem (negara) yang mereka anut, mereka bisa menjadi orang2 yang membunuh sesama dengan kejam.

dan masih banyak lagi kisah sejarah yang menyisakan kekejaman kelompok manusia, mereka semua menjadi begitu kejam, bengis dan sadis karena membela, mempertahankan, atau mengangungkan suatu sistem, ideologi, agama, ataupun nasionalisme mereka.

Seandainya semua orang mau mendengarkan hati nurani, dan mau memahami setiap hal dengan hati yang terbuka, mungkin kekejaman tidak akan menjamur dalam sejarah kehidupan manusia.

Semua agama meyakini bahwa “Sang Pemilik Hidup” adalah Maha Adil, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. lalu mengapa banyak manusia yang mengimani Tuhan justru berbuat tidak adil, tidak berbelas kasih, dan tidak menyayangi sesamanya?

Seringkali kita menganggap jalan kebenaran hanya pada jalan yang kita tempuh, hanya pada Agama yang kita tempuh, dan orang lain adalah di jalan yang salah dan sesat. dengan tegas aku juga menggugat paham ini, siapapun agamanya dan ideologinya.
Paham ini juga hanya akan menunjukkan betapa tidak adilnya Tuhan. apa salahnya orang yang di pedalaman hutan, tidak pernah mengenal agama? tidak pernah bertemu kebudayaan agama. lantas apakah mereka semua akan masuk neraka? apakah mereka akan dihukum Tuhan di akhir jaman?

Lantas apakah seorang bayi bisa memilih ingin dimana mereka dilahirkan? Apakah seorang bayi bisa menentukan dimana takdir mereka dilahirkan, sebagai seorang jawa, batak, sunda, ambon, amerika, negro, tiong hoa, dan sebagainya?
bukankah agama juga pertama kali diperkenalkan oleh paham/doktrin keluarga dan lingkungan tempat manusia tumbuh berinteraksi?
Apakah seorang jabang bayi bisa memilih aku ingin lahir menjadi keturunan Yahudi, ataukah Islam, ataukah Kristen, Hindu, Budha, Konghu chu, Shinto, atau bahkan seorang Atheis?

Aku bukan seorang yang anti agama dan ideologi, karena pada dasarnya kebaikan, keteraturan, dan keharmonisan di dunia juga banyak diajarkan berbagai paham agama dan ideologi.

Namun jika harus memilih antara suara hati yg penuh belaskasih dan tuntutan ideologi, maka tolaklah ideologi tanpa ragu2. karena hati nurani manusia tidak bersifat ideologis.
Bagiku jauh lebih mulia seorang atheis yang tidak pernah mengimani Tuhan, namun mau menolong dan berbelas kasih terhadap sesamanya, daripada orang yang berbuat jahat atas nama Tuhan, agama, ideologi, dan sistem.

Leave a Reply